Wednesday, 24 February 2010
The Tide Turns against Israel
By Gilad Atzmon – London
Diterjemahkan secara bebas oleh Umar Badarsyah
Sumber : http://palestinechronicle.com/view_article_details.php?id=15756
London marah atas penggunaan identitas curian oleh para pelaku pembunuhan di Dubai dan mengarahkan kemarahannya kepada negara Yahudi berikut dinas intelijen Mossad-nya yang terkenal kotor.
Dubes Israel untuk Inggris, Ron Proseso dipanggil pada hari kamis oleh menteri luar negeri untuk ‘berbagi informasi’. Pada praktiknya Inggris sebenarnya telah berhenti melakukan tuduhan kepada keterlibatan Israel dalam skandal pembunuhan, meski demikian untuk menunjukkan ketidaksenangannya Kementerian Luar Negeri mengacuhkan permintaan Israel agar pemanggilan itu dilakukan secara diam-diam. “hubungan keduanya berada pada titik beku sebelum ini. Kini hubungan itu semakin membeku,” seorang petugas pemerintah Inggris mengatakan itu ke The Guardian.
Sebenarnya kemarahan Inggris terhadap Israel bisa menjadi sebuah tanda positif ke arah yang benar jika sekiranya kita mengabaikan fakta bahwa Menteri Luar Negeri David Miliband menginvestasikan upaya-upaya luar biasa untuk mengubah pendirian etis Inggris hanya untuk menenangkan Tzipi Livni, Ehud Barak dan para pemimpin Israel lainnya. Reaksi sang menteri saat ini akan nampak seperti pencerahan, sekiranya kita bisa melupakan bahwa lima minggu sebelum Israel melancarkan serangan mematikan terhadap Gaza, David Miliband mengunjungi Sderot, sebuah kota Israel dekat perbatasan Gaza dan menawarkan dukungannya.”Tidak ada negara yang bisa menerima pemboman konstan terhadap penduduknya”, Miliband mengatakan itu kepada penduduk Sderot. Dia kemudian melanjutkan, “Israel harus, di atas segala hal, melakukan upaya melindungi penduduknya sendiri”. Pernyataan bodoh itulah yang membuat kita semua kini bertanggung jawab terhadap ratanya Gaza. Mengingat fakta-fakta ini, nampaknya mustahil untuk membayangkan Duta Besar Israel berkeringat saat ‘berbagi informasi’ di depan Menteri Luar Negeri.
Dalam beberapa hari terakhir Robert Fisk melaporkan dari Timur Tengah untuk koran The Independent bahwa di Dubai tidak ada keraguan bahwa Inggris terlibat dalam aksi blunder Israel. “Paspor-paspor Inggris tersebut asli”, ungkap salah seorang sumber Fisk di Dubai.”Paspor-paspor itu berfoto hologram, dengan cap biometrik. Identitas itu tidak ditempa atau palsu. Nama-namanya tertera disitu. Kalau kau bisa memalsukan hologram atau cap biometrik, apa artinya ini?” Kebenaran harus benar-benar diungkapkan kalau begini. Terlebih, harian Israel Ynet melaporkan (mengutip Daily Mail) bahwa Israel telah menginformasikan Pemerintah Inggris bahwa agen-agen mereka akan melakukan “operasi di luar negeri” menggunakan paspor Inggris palsu. “Pemberitahuan itu bukan permintaan izin, tetapi lebih berupa basa basi saja.”
Jika Inggris bekerja sama dengan Israel pada level apapun, kita harus mengetahuinya, kita seharusnya mencari tahu apakah pelaku kerja sama itu adalah seseorang atau sebuah badan dalam pemerintahan atau dari dinas intelijen, atau hanya sekedar seorang sayan di Kantor Pemerintah Dalam Negeri atau kantor pemerintah lainnya (sayan adalah bagian unik dan penting dari operasi Mossad. Sayan atau asisten harus 100 persen Yahudi. Sayan mendukung tindakan Israel dan membantu operasi Mossad. Seorang agen veteran Mossad pernah mengatakan,” terdapat ribuah sayan di seluruh dunia. Di London sendiri, terdapat 2000 orang aktif dan 5000 lainnya ada dalam daftar.”). Jika memang ada kerja sama Inggris, kita harus mengidentifikasi apa bentuk sesungguhnya dari kerja sama itu, siapa yang memutuskan untuk melayani kepentingan berdarah Israel di tengah-tengah kita. Kita juga harus mencari tahu siapa di Inggris ini, yang menempatkan kepentingan dan keamanan Inggris di dunia Arab, berada dalam resiko yang membahayakan.
Seumas Milne dalam artikelnya di Guardian tidak merasa perlu menahan kata-katanya.”Alih-alih melakukan pemutusan hubungan diplomatik, pemerintah Inggris duduk berpangku tangan hampir seminggu sejak pertama kali dilaporkan detail dari penyalahgunaan paspor tersebut. Dan sementara Kementerian Luar Negeri akhirnya memanggil duta besar Israel untuk ‘berbagi informasi’, dari pada melakukan protes,Gordon Brown kemarin hanya bisa menjanjikan sebuah ‘investigasi menyeluruh’”.
Kebenaran masalah ini teramat tragis. Sistem politik Inggris dilumpuhkan oleh lobi Israel. Seperti Amerika Serikat, kepentingan-kepentingan nasional Inggris dikorbankan demi uang haram Zionist. Jika Inggris ingin memerdekakan diri dari genggaman Zionist dan memiliki prospek masa depan lebih baik, Inggris harus bergerak cepat dan membersihkan semua daftar penyudup Zionist dari jajaran politiknya, kantor-kantor pemerintahan, dan posisi-posisi strategis. Saya tidak mengatakan di sini tentang orang Yahudi. Saya tidak bermaksud menyinggung etnisitas atau ras. Saya berbicara mengenai afiliasi ideologis dan politis. Menimbang Zionisme adalah ideologi berdarah, rasis, dan ekspansionis, menjadi wajar untuk menekankan bahwa orang-orang yang berafiliasi terhadap Israel dan Zionisme harus dienyahkan segera dari jabatan atau pos politik, pemerintahan, maupun militer apapun.
Sebagaimana Inggris menerapkan keberhati-hatian dalam memberikan keputusan berkenaan dengan kepentingan keamanannya dengan Arab, Cina maupun orang-orang Rusia, semestinya Inggris juga memperlakukan hal yang sama kepada warga negara Yahudi sama besarnya.
Tapi ini kabar baiknya. Tidak seperti sistem politik Inggris yang telah terkooptasi oleh Zionis, orang-orang dan media Inggris sebenarnya sangat marah. Blunder Mossad, begitupun dengan impotensi institusi politik Inggris secara gamblang terekspose oleh pers Inggris. Hal itu dimuat di halaman depan semua harian Inggris, dan diulas di setiap tayangan berita TV. Tidak ada lagi keraguan hari ini, bahwa kesabaran dalam menghadapi barbarisme Israel telah jelas-jelas semakin habis.
Beberapa tahun lalu Saya mendengarkan sebuah diskusi yang disampaikan oleh Dr. Mustafa Barghouti yang merujuk peristiwa tahun 1948 saat dunia diam menyaksikan 750.000 orang Palestina terusir dari tanah mereka, dari desa-desa dan kota-kota mereka lewat pembersihan etnis terencana yang disertai pembantaian-pembantaian. Dunia tetap diam ketika Israel memberlakukan hukum larangan pulang untuk mencegah orang-orang Palestina kembali ke tanah mereka. Di tahun 1967, dunia yang telah berkembang tidak hanya diam, tetapi malah memuji kegiatan ekstravaganza expansionis Israel. Dunia bertepuk tangan ketika Pasukan Pertahanan Israel membersihkan ribuan orang Palestina dari tanah bersejarah mereka.
Tapi kemudian segala sesuatu mulai berubah. Pada perang Libanon tahun 1982, dunia kebanyakan masih tetap diam saat 30.000 orang Palestina dan Libanon dibantai oleh Pasukan Udara Israel dan Pasukan Pertahanan Israel. Namun, secara ajaib menyisakan sedikit orang yang bangkit dari lelap tidur mereka. Beberapa aktivis mulai menyadari bahwa orang-orang Palestina dan permaslahan mereka berada di jantung pertempuran mereka untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Saat intifada pertama dan kedua berlangsung semakin banyak orang yang menyadari bahwa Israel-lah sang agressor. Di tahun 2006 Israel sekali lagi melancarkan serangan total ke Libanon. Kali ini Israel meninggalkan 3.000 korban. Meski demikian, akibat dari tindakan brutal Israel ini mengakibatkan peningkatan drastis perasaan anti Israel. Bahkan pada faktanya, Perang Libanon ke-2-lah, bukan Perang Irak, yang telah menjadi katalis bagi kejatuhan politik Perdana Menteri Tony Blair. Blair mendapat bayaran politik langsung karena terlibat dalam perang. Pembantaian Gaza 2009 mengakibatkan 1.400 orang Palestina meninggal, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak., meninggalkan Gaza dalam kehancuran total, tapi sebagaimana kita ketahui, hal itu juga mengakibatkan gelombang kebencian anti Israel yang tinggi di semua tingkat media yang ada, di jalanan bahkan di PBB.
Pekan ini kita belajar tentang blunder pembunuhan terbaru dari Israel. Aksi itu telah membunuh seorang pemimpin militer Hamas. Kalau dulu Israel akan dipuji atas keberanian para pasukan pembunuhnya, yaitu orang-orang yang mengejar musuh-musuh Yahudi di tanah-tanah jauh dan seterusnya, reaksi pekan ini sangat berbeda. Negara Yahudi itu kini dipahami sebagai negara pariah. Media Inggris dan orang-orang mulai melihat lebih dalam. Tidak ada satupun media Inggris yang berdiri membela Israel, tidak satupun yang mencoba untuk menjustifikasi atau membela tindakan Israel. Tidak ada yang mengulang pembicaraan bahwa Hamas adalah organisasi teroris. Saya mengira bahwa kini, orang-orang di luar sana mulai memahami bahwa Hamas adalah organisasi Palestina yang terpilih secara demokratis untuk memimpin. Orang-orang juga menyadari bahwa Hamas memiliki justifikasi untuk mengupayakan perjuangan legitimatif demi kemerdekaan.
As much as Israelis and their supporters try to tell us that the diplomatic backlash is fueled by merely technical matters such as "identity theft", reading the British press convey a far deeper resentment to Israel, what it stands for and the way it operates. For a while some of us have been talking about remote signs that the tide is changing. As it happens, we are waking up into a new reality. The tide has changed already. Israel has exhausted the last drops of moral integrity, as if it possessed such integrity to start with. Britain and every Western country better move fast and identify the enemy within, those amongst us who support the Zionist project and convert us all into being complicit partners in Israel's never ending sin.
Sebesar apapun orang-orang Israel dan para pendukungnya berupaya mengatakan kepada kita bahwa ketegangan diplomatik ini terjadi hanyalah karena persoalan teknis semacam“pencurian identitas” saja, tampaknya membaca pers Inggris, malah menunjukkan kemarahan yang lebih mendalam terhadap Israel, atas apa yang menjadi pendiriannya dan cara yang digunakannya. Untuk beberapa waktu, sebagian dari kita telah membicarakan soal tanda-tanda bahwa arah gelombang itu telah berubah. Saat hal itu terjadi, kini kita telah masuk ke dalam realitas baru. Arah ombak itu telah benar-benar berubah. Israel telah kehabisan tetesan terakhir integritas moralnya, kalaupun sejak awal Israel memang memiliki integritas semacam itu. Inggris dan setiap negara Barat sebaiknya bergerak cepat dan mengidentifikasi musuh yang berada di dalam mereka, yaitu orang-orang yang berada di antara kita yang membela proyek Zionis dan merubah kita semua menjadi rekan setia Israel dalam melakukan dosa-dosanya yang tak berkesudahan.
-Gilad Atzmon adalah musisi jazz Inggris kelahiran Israel. Dia menulis masalah-masalah sosial dan politik, identitas dan budaya Yahudi. Artikel-artikelnya diterbitkan oleh banyak media seantero dunia. Dia mengkontribusikan artikel ini ke PalestineChronicle.com
Monday, 22 February 2010
Judge Bao Pun Tak Cukup
Judge Bao Pun Tak Cukup
Umar BadarsyahPeneliti Institute for Sustainabler Reform (InSuRe)
Lembaga Analisis Media dan Kebijakan Publik
Jika sekiranya Indonesia memiliki delapan hakim Bao, hakim legendaris kekaisaran Cina terkenal jaman Dinasti Song Utara, belum tentu permasalah bobroknya peradilan dan penegakan keadilan di Indonesia bisa teratasi. Judge Bao (999-1062 M) selama 30 tahun menjabat sebagai hakim memecat, menurunkan pangkat dan menghukum sedikitnya 30 orang pejabat tinggi, bahkan orang-orang terdekat kaisar sekalipun. Dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan menyerah selama dianggapnya sesuai kebenaran. Judge Bao menjadi perlambang hakim penegak keadilan yang berani dan tak pandang bulu.
DPR kini sedang melakukan fit and proper test terhadap 21 calon hakim agung yang telah diseleksi dan lolos tahapan pada Komisi Yudisial. DPR punya tugas konstitusional dan moral untuk bisa benar-benar memilih hakim agung yang terbaik, barangkali mendekati kriteria hakim Bao. Jujur, berani, berintegritas dan berpegang teguh pada keadilan dan kebenaran sejati.
Meski terkesan terlalu naif, tapi memang orang-orang berintegritas setinggi hakim Bao lah yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan memperbaiki lembaga peradilan kita saat ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lembaga peradilan, oknum hakim dan panitera menjadi sarang penyamun serta biang makelar kasus. Jika rujukannya adalah data terkuantifikasi, maka barangkali jumlah aduan ke Satgas Pemberantasan Korupsi bisa menjadi bukti indikasi markus. MA berikut lembaga peradilan dibawahnya berada pada posisi teratas sebagai institusi penegak hukum yang paling banyak dilaporkan terjadi indikasi markus. Dari jumlah yang sudah dikaji ulang sebanyak 224 hingga Jumat (12/2) kemarin, total aduan oknum MA dan lembaga peradilan 94. Urutan keduanya kepolisian 69 pengaduan, kemudian kejaksaan 49 pengaduan.
Persepsi publik kepada lembaga peradilan pun berada pada titik yang rendah. Paling rendah dalam lima tahun terakhir. Survei kompas menunjukkan saat ini tingkat apresiasi positif masyarakat hanya mencapai di bawah 20 persen dari responden.
Tapi bahkan hakim Bao saja tidak akan cukup. Ini dikarenakan terdapat kelemahan sistem dalam bangunan keseluruhan sistem judiciary di Indonesia. Rangkaian kasus thaun 2008 dan tahun 2009 menunjukkan hal ini. Kasus salah tangkap Kemat David menggambarkan bagaimana proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan secara menyimpang tidak bisa diidentifikasi oleh sistem akibat lemahnya pengawasan sistem dalam KUHAP. Ketika masuk dalam tahap penuntutan dan pemeriksaan sidang hingga vonis, hakim harus berpegang pada surat dakwaan. Ketika alat-alat bukti yang terfabrikasi dalam proses pro-yustitia sebelumnya tak terendus, hakim harus memutuskan sesuai dengan fakta dalam persidangan. Di sini bahkan hakim yang jujur sekalipun akan terpaksa menjatuhkan vonis. Pada kasus Kemat David juga upaya restorasi keadilan juga tidak mampu memberikan bentuk yang setimpal kepada Kemat dan David, bahkan untuk sekedar langsung membebaskan mereka.
Para calon hakim agung yang terpilih juga tidak akan mampu berbuat banyak dalam upaya mereformasi birokrasi di tubuh MA, karena belum tentu mereka kemudian dipilih menjadi pejabat struktural di tubuh MA. Hakim Agung hanya memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan di tingkat kasasi, dan pengujian peraturan perundang-undangan. Pada ranah fungsional ini sajalah mereka bisa mengupayakan keadilan. Meski tugas ini juga teramat penting dan strategis dalam menjaga tegaknya keadilan. Namun, sekali lagi, tanpa jabatan struktural mereka, jika proses poltik DPR mampu mendapatkan para hakim agung yang benar-benar berkualitas, takkan mampu berbuat banyak. Mereka jika benar mengupayakan reformasi dan perbaikan takkan mampu melawan apa yang digambarkan oleh John P. Kotter (1996) sebagai resistensi organisasi maupun individual yang terdapat dalam tubuh lembaga peradilan MA.
Pemilihan hakim agung yang berkualitas hanya satu tahapan saja dalam upaya besar DPR mengupayakan tegaknya keadilan. Perbaikan sistem, terutama melalui penyelesaian RUU KUHAP dan RUU KUHP yang kembali masuk dalam prolegnas, merupakan pintu utama tidak hanya reformasi sistem peradilan tetapi juga akan menarik reformasi institusi-institusi penegakan hukum.
Fiat justitia ruat caelum
Friday, 22 January 2010
NormanFinklenstIsrael-PaletinePart1.mp4
Dr. Norman Finkelstein Ph.D Lectures On Israeli-Palestine Conflict at Brown University, April 15th 2008.Part 1
Verbatim are made by Umar Badarsyah with a plausible editing by I Made Vira SAras 008 alah..
(minutes: 01.36) Thank you for coming out this evening and I look forward to a good discussion. The topic I wanted talk about this evening is one which the more I read on the topic the more it becomes compelling to me at anyway that the Israel-Palestine conflict is probably among the least complicated, least controversial in the world today.
(02.03) The consensus on the historical record, the consensus on the human rights record, the consensus on the legal diplomatic record basically the past, the present and the future is quite broad and one can almost say its remarkable.
(02.26) And now when I made an initial statement some people laugh because obviously its quieted odds with the perception of the conflict when we entered into the public arena. Where we were told how complex, how controversial, how intrigued this Israel- Palestine conflict is. And that a tough nut , it is to crack.
(02.55) I was on a way here, reading a new book by one of the negotiator at Camp David., a fellow named Aaron David Miller and he writes his account on the camp david negotiation in 2000 and basically the whole period of 1990s up to the present, and he goes at some great length about how complicated this question is, and how nobody would want to tackled it, but I don’t thing that’s what the record shows. The record shows that is not very complicated at all, and then the obvious question arises, if what I am saying is true and the burden on my remarks this evening is to demonstrate what I am saying is true. If what I am saying is true and how do you account for all the controversies that swirled around the Israel-Palestine conflict, when you enter the public arena. And the main argument I am going to make this evening is that most of that controversies is contrived, its artificial, its fake. And its designed, its purpose is, to divert people attentions from what the record actually shows. And to sold confusions about that record.
(04.21) Well let me begin with a fairly straight forward excess able and recent illustration. In July 2004, the highest judicial body in the world, the international court of justice it rendered a land marked advisory opinion on the wall that Israel is building in the occupied territories. Some of you who are familiar with the topic will perhaps know the conclusion the world court reached, namely that the wall Israel is building is illegal, it has to be dismantled and Israel has to pay compensations for the damages rot. In fact that was probably the least significant aspect of the world court advisory opinion. And the reason why, is this..
(05.22) For those of you who are familiar with the lingo of this thing called ‘the peace process’ …ahhh one aspect of this peace process is what’s called ‘the final status negotiations’ and that basically means those aspects of the Israel-Palestine conflict which are said to be so controversial, complex and intrigued that they have to be the furthered put off until the last stage of negotiations, because if you start with this issues the whole process will break down. So the usual sequences to claim, we first need confidence building measures, another catch phrase in this thing called the peace process, first we need confidence building measures, and then, we can proceed to those tough final status negotiations. Well it so happens that before the world court, the international court of justice could rule on the legality of the wall that Israel has been building, they first had to rule on nearly all the final status questions.
(06.47) The final status questions are usually said to consist of four:
1. Borders: what are the legitimate borders of the state of Israel, what would be the legitimate border of the Palestinian State;
2. Settlements, the status of the settlements that Israel is building in the Occupied Palestinian Territories
3. Jerussalem, the status of East Jerussalem; and number
4. The question of the refugees
(07.22) Well , it so happens at the world court had to rule on the first three questions: borders, settlements and Jerussalem , before it could rule on the legality of the wall that Israel is building, for reason which would be obvious to everybody in the audience. If the borders of Israel extended all the way into that West Bank, tentatively or factually then obviously the wall will be legal or tentatively legal. For reasons that every property owners in this room knows, if you have a quarrel with your neighbor, you are allowed to build a fence, or construct a fence along the border with your neighbor, but you obviously not allowed to build a fence around your neighbor’s swimming pool or garage.
(08.21) This on particularly complicate question of law and the same principle applies here ,so we have to first know where the border is, before we can determine the legality of the wall that’s being built, and the same principle applies to the settlements because as it happens this the wall that’s being built takes what the court calls a sinuous route that goes around the settlements. Well the settlements are legal? that’s fine! But if the settlements are the equivalent of your neighbor’s swimming pool ,well obviously question arise. And so the world court had to proceed to answer these questions.
(09.07) Allegedly and you are bare with me to the point of tedium, I hope, but because it keeps being said: “These questions are so controversial!”, they are so ‘complicated’. Well what did the World Court decide? Number one, on the question of borders, the International Court said, there is a fundamental principle of international law. It is stated in preamble paragraph of the Venice UN resolution 242 namely the inadmissibility of the Acquisition of Territory by War. Basic principle of international law said to be anchored in article 2 of the UN Charter. Therefore, Israel which conquered the West Bank and Gaza during the June 1967 War, it acquired them by war, therefore Israel has no title to them. Why??? (10.10)
(10.10) Why?? Because it is inadmissible to acquire a territory by war. And so the World Court rules Israel has no title to any territory outside it’s pre June 1967 border, and its very clear it refers to the West Bank and Gaza as Occupied Palestinian Territory, capital O, capital P, capital T and the abbreviation is usually OPT. I mentioned it only because It considered now a common place. If you open up any human rights report in the occupied territories, you would see everywhere they are referred to as Occupied Palestinian Territory parentheses OPT. It’s a non controversial question, they were acquired by Israel through war, Israel has no title to them, these are Occupied Palestinian Territory. They are not, as it often said in the public life, these are not disputed territories, these are Occupied Palestinian Territories, no dispute about the matter of ownership. I was reading today that Mr. Rumsfeld use to refer to them as the so called Occupied Palestinian Territories but it is not so called and it is not disputed says the World Court.
(11.45) Number two, the question of the settlements. The 460.000 settlers that Israel has transferred to the West Bank and previously to Gaza. What is their status under the international law? Again the World Court says. Its just not controversial. Article 49 of the fourth Geneva Convention states unambiguously or as lawyers like to say in plain language that is inadmissible for occupying power to transfer its population to occupied territory. And therefore the World Court says quoting UN Security Council’s Resolution that the settlements in the occupied territory constitute a flagrant violation of international law full stop.
(12.49) Number three, we’re often called in the matter of East Jerussalem is apart from the question of the refugees, the most complicated to resolve, and its true if you read the record of Camp David it is probably correct to say that the refugee quest..excuse me not the refugee quest.., the Jerussalem question was the toughest nut to crack. There was a huge amount of energy invested in trying to resolve that particular question, at the practical level! But legally there is no issue at all. How did Israel East Jerussalem? It acquired East Jerussalem exactly the same manner as It acquired the West Bank and Gaza. It acquired East Jerussalem in the course of a war, and under international law it is inadmissible to acquire territory by war. Therefore, Israel has no title to east Jerussalem. If you read the court decision It’s very explicit. It refers to the West Bank, including East jerussalem, and the Gaza Strip as Occupied Palestinian Territory, no dispute, no question, and no controversy, no complexity.
(14.16) Now, even that is really only part of the story. First of all World Court, international court decisions are often quite close, it work basically like our own Supreme Court, cases rise to the top so to speak, because they bare on controversial issues which are close, legally. That’s why they reach to Supreme Court. And as everyone in this room knows, Supreme Court decisions are often quite close as are world court decisions. So you take one that you would think is a no brainer. Let say 1996, positions for human right submit a question to the world court on the legality of nuclear war or the use of nuclear weapons, I think the technical term was the Threat or Use of Nuclear Weapons. Now the fundamental principle of the laws of war, as everyone in this room know is the principle of distinction between civilians and combatants. And then it seems to be pretty obvious that in so far as nuclear weapons are incapable of distinguishing between civilians and combatants by their nature ,they are indiscriminate weapons, in so far of incapable of distinguishing between civilians and combatants, you will think is obvious they are illegal under international law, their use. No, the World Court was on a very close vote and the vote was, the tight breaking vote was cast by the president of the court. So even when you would think something will be fairly straight forward, it was not! I don’t particulary agree with the decision of the court but it was actually a quite interesting decision and the dissents were, especially by the Judge Feromantry (aduh nama orang nih) were very interesting to read. Why do I mention it? Because when you come to the World Court advisory opinion, on this ‘Complicated Issue’ to which I just referred the vote wasn’t as close at all. It was fourteen to one. The one dissenting vote by the American judge Thomas Burgenthou to which I return to in a moment. It was not a close vote. These are not under international law, complicated questions.
(16.51) These are tenets , fundamental principles of international law which are being tested in the advisory opinion, or you can look at it from another angle. World Court decisions or opinions, when you take what’s called the majority opinion, the separate opinion, the decoration and the dissents, they can be a quite substantial. So I was reading the 1984 World Court opinion when Nikaragua went to the court because US was mining the harbors of Nikaragua, people of the previous generation will remember that. When you look at the full compendium, separate opinions, majority opinions, dissent and so forth it comes to a hefty thousands pages. And at one day in a past when I was a professor, I got to late at night when no one was around , printed out on my university printer now I cant do those things anymore unfortunately. They were quite hefty.
What interesting about this particular advisory opinions of the court, if you take all the opinions and you will find a lot of separate opinions. And Mr Burgenthou separate decoration. It comes to the left of a hundred pages. And it comes to the left of a hundred pages for a very simple reason: these are not complicated questions. Even you take the case of Judge Burgenthou himself. He doesn’t issue a dissent, in the nomenclature of the court, you can issue majority opinions, separate opinions, and then the dissent and in the middle is something called a declaration. The declaration being more neutral.
Even the American Judge, he was very cautious, he issues a declaration. Not a dissent! And in his declaration he begins by saying there is much in the majority opinions with which I agree. And then he goes on to look at what probably ‘the most not controversial but most critical question. Namely the issues of those settlements. Because where there’s no settlements there be no conflict. And Mr. Burgenthou says. Well Ia have to agree. Under article 49 those settlements are illegal. And he says if Israel is building the wall in order to protect the settlements, then he says, I am using his language, ipso facto the wall is illegal! And therefore what we find is an a most controversial question and of the most controversial of the controversial questions its fifteen to zero. There is no controversy what’s so ever. And then obviously raises again the obvious question. If what I am saying is true, how do we account for all of this alleged controversy swirling around the Israel-Palestine conflict.
Before I look at that I want to when the time allows me, which is obviously limited to go through the record on the three areas which are decestions of the area of the conflict. To put in nursery school’s language past, the present and the future.
So lets first look at the past, the history. I notice in this room there are some people who are roughly at my age cohort, I can detect them from their tidy shirts their love beads, that glaces over look in their eyes, still saying give peace a chance, still wishing they were Sony Bono with share. And for those who a hard can back to those wonderful days of the sixties which I not over. They will remember that probably the question in the historical record that used to generate the most controversy, the most dispute was how did those Palestinians become refugees in 1948?
(21.42)For those of you who are new to the topic, the background is very easy to sketch in November 1947 United Nation General Assembly decide to resolve this conflict in Palestine, we are going to divide it roughly in half between Jews and Arabs, immediately upon, the UN Resolution being passed, a conflict breaks out within Palestine by 9th May 1948 when Israel declared it statehood it becomes an inter-state conflicts with neighboring Arabs states. At the end of the war roughly 750.000 Palestinians find themselves outside their homes. And the question always arose: How did those 750.000 Palestinians, how did they end up refugees?
(22.40) And the standard argument that Israel put forward, as I said was probably widely believed up until roughly the late 1980’s, the argument was : that the Arabs Army stood poise on the border of Palestine ready to invade transmitted these radio messages broadcasted to the Palestinian in Palestine to leave their homes clear the field for the invading Arab Armies and after they successfully threw the Jews to the sea then the Palestinians would be able to return to their homes. How many people are familiar with that explanation of what happen in 1948?
(23.37) Well the other people must surely, because that’s the standard. And until the late 1980’s. As I said that was pretty much with everybody belief. And then in the late 80’s a number of Israeli historian in particularly but not exclusively Israeli historian start going trough the record from the Israeli archival point of view, and then main person who went through the record a fellow name Benny Maurice, and Benny Maurice concludes, to use his language not my own, that what happened in 1948 was an ethnic cleansing, and there is now you could say a broad consensus among historians that exactly that what happened in 1948 was the indigenous populations of Palestine and at any area that became Israel was ethnically cleansed.
(24.21) Now It’s not true to say no debate continues but the debate is now within fairly narrow parameters the debate now is was it ethnic cleansing premeditated intentional methodical or was it an accident of war? Everybody knows war generates refugees and maybe this refugees are simply a by product of a war. And to show you or to illustrate how narrow this debate has become. We take the case of Israel former Foreign Minister Sholomo Ben Ami a very smart guy, he is a historian by training and reasonably honest fellow for sure, he wrote couples of years ago a book called Scars of Wars Wounds of Piece part of which went through the history of the conflict and of course he has to address the refugee question and he says well, Ya it was an ethnic cleansing in 1948 but the former foreign minister says… I don’t really agree with Benny Maris, Maurice being one of the proponents of a notion that it was an accident of war, now says the former foreign minister I don’t not really agree with that, it was quite clearly premeditated intentional methodological as he puts it, it was anchored in the Zionist philosophy of transfer, transfer’s being the euphemism back then for explosion and so now you have the case of a former Foreign minister, incidentally not an ancient former foreign minister, he was the Israeli foreign minister in 2000 during the Camp David negotiations, even a former foreign minister and a trained historian acknowledges it was not just an ethnic cleansing but it was a premeditated ethnic cleansing anchored in the Zionist philosophy of transfer.
(26.24) a part from the question of the refugees, probably the question that loons largest or it’s most in the public eye, is the question of these wars that Israel has endured with its neighbors since it founding in 1948. And certainly it’s a large number of wars: 48, 56, 67, the Canal War, 68 to 70, 73,82, and the two intifadas.
(27.02) And the conventional wisdom is, as Israeli likes to say with a past of exception 1982 war, the war of Lebanon, this was wars of no choice. No choice wars. Aa well but that’s not the record any longer shows. You take the case of a very excellent book, I highly recommended it, I surely put it above my own. Aa by Zeef Maoz its called Defending The Holy Land, Maoz is a former director of Israel’s Jaavi Center of Strategic Studies at Tel Aviv University. He is a very smart guy and obviously he held a prestigious position that’s the Israel most distinguish Center for Strategic Studies, and his written a very fat book it is probably around 800 pages. Its interesting and anyway to denigrate the book, I think the book is an excellent book, but just to put it in perspective, the book is mostly a synthesis of what all other scholars have written in the topic it’s a mostly a synthesis of that you call, in latin or scholarly language the monographic literature. He takes all and try to figure out ‘ok what is it all shown?’
(28.18) Obviously time doesn’t allow me to get through those 800 pages but it’s not without interest to just listen to his conclusions. So he says or concludes:’Israel war experience is a history of folly, recklessness, and self made traps. None of the wars, None, with a possible exception of the 1948 war of Israel independence, none was a war of necessity. They were all wars of choice or folly. The only possible exception he says and as I was actually interested, he qualifies it only possible exception is maybe 48. He goes on to say, Israel decision makers were as reluctant and risk averse when they came to making peace as they were daring and trigger happy when it came to making war! The official Israeli decision makers typically did not initiate peace overtures. Most of the peace initiatives in the Arab Israeli conflict came either from the Arab World or from the international community, or from grass root and informal channels. When Israel was willing to take risk for peace this usually paid off. The Arab generally showed a remarkable tendency for complaints with their treaty obligations. In quite of view cases It was Israel rather then the Arabs that violated formal and informal agreements. Again an opinion diametrically at odds with the conventional or mainstream wisdom 67 wasn’t a war of necessity, 73 the so called Yumkipur war not a war of necessity, the only possible exception is 48.
(30.39) Now bare in mind, under international law if it wasn’t a war of necessity which is defined very stringently a war of necessity is when you are the object of an armed attack article 51 of UN charter. In any other of case it’s a war of aggression. And even Mr. Maoz is clearing that. He says a war of choice is just the euphemism for a war of aggression. All of the wars with a possible exception of 48 says Mr Maoz were effectively wars of aggressions by Israel.
(31.27) Well, what about the present? Maybe the historical record has been clarified, because its historical. People had their chance to go through to the documentary record. But isn’t the present complicated? Its happening as, its unfolded as before our own eyes. And often when you read the newspapers you are told its very complicated.
(31.57) Occasionally I have this stomach if I could use the vulgarity, to look at the New York Times and this thing named Issabel Kurshner, she is their correspondent. And Mrs Kurshner is always misstated perplexity and confusion. She never knows what’s happening. So the last time Israel invaded Gaza. She says the Israeli say the majority of the fatalities were militants and the Palestinians say they were civilians. And the proverbial hands of flown in the air who knows who’s telling the truth?
(32.49) But in fact it’s not so difficult to who’s telling the truth all you have to do is do what’s done in every other conflicts. Namely what do reporters and journalists do. They go to the local human rights organization which has a track record of honesty and a track record of integrity and you asked them. So the very day that Mrs. Kurshner was throwing her hands in despair who knows who’s telling the truth, Beit Shelom the Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories issues a press release say we went to each of the casualties and our conclusion the majority were civilians.
(33.47) Now it’s a very interesting question with this matter of the human rights record. Because on its surface as the lawyers like to say prima facie you would expect there are to be a lot of controversy, why?
Number one, human rights laws are relatively new body of international law and that means a lot of terms and concepts have not been really flesh out and defined. One for example every on in this room has heard namely the term human shield. But what a human shield actually means is not entirely clear. Because for example, let say a city is under attack, and the defending country puts artillery next to civilian buildings because they have no alternatives. It is after all a concentrate civilians area, a city .If its put an artillery, a piece of artillery next to civilian area. Is it using it as a human shield or not? It’s a very tough call and you’ll see different human rights organizations reaching different conclusions about the same situation. End of Part One (35.18)
Friday, 15 January 2010
Lessons from the Gaza Freedom March
By Joshua Brollier
Ditranslasikan secara bebas oleh Umar Badarsyah
Translasi ini sekedar manifestasi kecil dari pemaknaan pribadi atas jihad, Trilogi Jihad Pribadi: Anti-Korupsi, Palestina, dan Terus Belajar
Sumber: Palestinechronicle.com
When I traveled to Cairo to participate in the Gaza Freedom March, I hoped to enter Gaza to contribute toward ending the siege and preventing future air assaults and invasions, such as the 22-day Operation Cast Lead that Israel launched against Gaza at the close of 2008.
Ketika saya melakukan perjalanan ke Cairo untuk berpartisipasi dalam Gaza Freedom March, Saya berharap bisa masuk Gaza dan memberikan kontribusi dalam upaya mengakhiri pengepungan dan mencegah serangan-serangan udara dan invasi-invasi di masa yang akan datang,sepeti yang terjadi selama 22 hari Operasi Cast Lead penyerangan Israel terhadap Gaza di akhir tahun 2008.
I was also keenly looking forward to meeting a young Gazan who had greatly assisted my co-workers on a Voices delegation to Gaza during last year’s Operation Cast Lead. At considerable risk to himself, this young man met members of Voices at the border, arranged housing, translated, and assisted in bearing witness to the devastation caused by the Israeli military assault. Due to the callousness of the Egyptian authorities, I was not able to meet this man or deliver much needed material aid to his community. Early this morning, my co-workers and I received an email from our friend in Gaza, saying that the Israeli military is once again bombing near the Rafah border. One Palestinian was killed and others were injured.
Saya juga bertekad untuk menjumpai seorang pemuda Gaza yang dengan luar biasa telah membantu rekan-rekan kerja saya yang tergabung dalam sebuah delegasi Voices ke Gaza saat Operasi Cast Lead berlangsung tahun lalu. Dengan resiko besar yang dihadapinya, pemuda ini menemui anggota-anggota Voices di perbatasan, mengatur penginapan, mentranslasi, dan membantu dalam memberi kesaksian kehancuran yang diakibatkan oleh serangan militer Israel. Akibat sikap pemerintah Mesir yang tidak berperasaan, saya tidak bisa bertemu malik-laki ini atau mengirimkan banyak barang bantuan untuk komunitasnya. Pagi ini, saya dan rekan-rekan kerja menerima sebuah email dari teman kami di Gaza, mengatakan bahwa Israel sekali lagi melakukan pengeboman dekat perbatasan Rafah. Seorang warga Palestina tewas, dan beberapa lainnya terluka.
Given Israel’s continuing siege and bombardment of Gaza, I am eager to learn lessons from our experience in the Gaza Freedom March, regroup and continue in the struggle to end the siege and occupation. Here are several of the lessons which I think are most important to communicate to the wider U.S. public.
Mengingat pengepungan dan pengeboman Israel terhadap Gaza yang terus berlangsung, saya bermaksud untuk mengambil banyak pelajaran dari pengalaman kita dalam Gaza Freedom March, untuk kembali berkonsolidasi, dan melanjutkan perjuangan menghentikan pengepungan dan pendudukan. Berikut adalah beberapa pelajaran yang saya pikir merupakan hal yang penting untuk dikomunikasikan kepada publik AS yang lebih luas.
The first is that the United States and Egyptian governments have been actively colluding with the Israeli government to maintain the siege of Gaza. All three are working together and they do not plan to stop imposing collective punishment on Gazans any time soon. This punishment is carried out through forbidding Gazans to exchange goods or travel outside of Gaza. What’s more, all three governments are complicit in promulgating Israel’s greater program of apartheid and displacement of the Palestinians. The second lesson is that the worldwide movement in solidarity with Palestine is alive and growing. The movement is at a critical point where we must apply pressure on all three governments through a variety of nonviolent tactics.
Pertama, bahwa pemerintah AS dan Mesir telah secara aktif berkolusi dengan pemerintah Israel untuk mempertahankan pengepungan di Gaza. Ketiganya bekerja sama dan mereka tidak berencana utnuk menghentikan hukuman kolektif terhadap penduduk Gaza kapan pun dalam waktu dekat. Hukuman ini dilakukan dengan melarang penduduk Gaza untuk jual beli barang atau melakukan perjalanan di luar Gaza. Lebih jauh lagi, ketiganya terlibat dalam program pembiaran/pemakluman program Apartheid Israel yang lebih besar dan perpindahan paksa para penduduk Palestina. Pelajaran kedua adalah bahwa gerakan solidaritas dunia atas Palestina hidup dan terus berkembang. Gerakan itu berada pada poin kritis dimana kita harus melakukan tekanan terhadap ketiga pemerintahan tersebut, melalui sejumlah taktik tanpa kekerasan.
In reference to the complicity of the U.S., Israeli and Egyptian governments, I do not use the word apartheid lightly. I think this word sometimes polarizes people and causes them to self-censor information about the issue being discussed. That being said, I think that the broader international community nevertheless bears responsibility to recognize the plight of the Palestinian people and work to end Israel’s oppression. Throughout the Gaza Freedom March presence in Cairo, our sisters and brothers from the South African delegation dynamically articulated the connections between injuries that indigenous Africans suffered under the white supremacist regime in Pretoria and the inequalities that Palestinians now face at the hands of the Israeli government.
Ketika menunjuk pada keterlibatan pemerintah AS, Israel, dan Mesir, saya tidak menggunakan istilah Apartheid secara sembarangan. Saya pikir kata ini terkadang mempolarisasi orang dan menyebabkan mereka untuk menyaring (menolak) sendiri informasi tentang isu-isu yang sedang dibahas. Terlepas dari (polarisasi) itu, saya pikir komunitas internasional yang lebih luas bagaimanapun juga mengemban tanggung jawab untuk mengakui adanya penderitaan warga Palestina dan bekerja untuk mengakhiri penindasan Israel. Selama gerakan Gaza Freedom March berlangsung di Cairo, saudara-saudara dan saudari kami dari delegasi Afrika Selatan secara dinamik mengartikulasikan hubungan antara luka-luka yang dialami penduduk aseli Afrika yang menderita di bawah rezim supremasi kulit putih di Pretoria dengan perlakuan tidak sama yang dialami oleh para penduduk Palestina saat ini, di bawah tangan pemerintahan Israel.
The delegation informed us that just as blacks in South Africa were forced to live in Bantustans and provide cheap labor for industry controlled by whites, so the Palestinians in Gaza and the West Bank are caged in smaller and smaller areas controlled by Israeli military checkpoints. The economic livelihood of the Palestinians is reliant upon free movement through these checkpoints and Israel often only grants access for Palestinians when it is financially useful for Israel. Similar to the situation in South Africa, Israel controls all the beneficial natural resources and siphons the productivity and profit of the resources away from the people of Palestine.
Delegasi Afrika Selatan itu menginformasikan kepada kami bahwa sebagaimana terjadi terhadap orang-orang kulit hitam di Afrika Selatan yang dipaksa hidp di wilayah Bantustan, dan dipaksa menjadi pekerja murah bagi industry-industri yang dikontrol oleh orang-orang kulit putih, orang-orang Palestina di Gaza dan di Tepi Barat saat ini dikurung di area yang jauh lebih kecil yang dikontrol oleh pos-pos pemeriksaan militer Israel. Kehidupan ekonomi warga Palestina bergantung pada kebebasan bergerak dari pos-pos ini dan Israel seringkali hanya mengabulkan akses kepada orang-orang Palestina ketika itu berguna secara finansial bagi Israel. Sama halnya dengan yang situasi di Afrika Selatan, Israel mengendalikan semua sumber daya alam yang menguntungkan dan mengalirkan produktivitas dan keuntungan dari sumber-sumber itu jauh dari orang-orang Palestina.
The state of Israel has not only exploited Palestinian labor, it has often attempted to forcibly relocate Palestinians in its quest to annex Palestinian lands. Palestinian resistance and international public opinion have thwarted Israel from successfully achieving its goal to appropriate all of Palestine. But given Israel’s persistent thrusts for expansion and defense of illegal settlements, most Palestinians doubt Israel’s commitment to an actual “peace process.”
Negara Israel tidak hanya mengeksploitasi pekerja Palestina, Israel sering melakukan relokasi paksa terhadap orang-orang Palestina dalam upayanya menganeksasi tanah-tanah mereka. Perlawanan Palestina dan opini publik internasional telah merintangi Israel dalam upayanya mencapai kesuksean mengambil seluruh Palestina. Namun, melihat upaya persisten Israel terhadap ekspansi dan mempertahankan pendudukan illegal, kebanyakan warga Palestina meragukan komitmen Israel terhadap sebuah proses perdamaian akan terwujud.
When analyzing the history of the conflict, The Israeli government’s practice of apartheid and displacement of Palestinians seems almost too sinister to be true. But to further understand the situation, U.S. citizens might look to an analogy from our own history. The indigenous people of North America were first considered by colonizers to have great potential as slaves, but when the Europeans realized that the Native American tribes were not easily subjugated, they moved swiftly into a national policy of relocation and, at times, annihilation. Our supposed national heroes like Andrew Jackson practiced ethnic cleansing with a belief that they acted in the name of God and country. When seen in this light, the ideologies of Manifest Destiny and Zionism look like two sides of the same coin. For the United States, the endless “peace process” of double-crossing treaties was not considered complete until the indigenous peoples were either banished to a reservation, safely out of sight and out of mind, or killed outright.
Ketika menganalisis sejarah konflik ini, parktek apartheid pemerintah Israel dan pemindahpaksaan warga Palestina nampak terlalu menyeramkan untuk jadi kenyataan. Namun untuk lebih memahami situasinya, para penduduk AS bisa melihat analogi dari sejarah kita sendiri. Para penduduk asli Amerika Utara pertama kali dipertimbangkan oleh para kolonialis memiliki potensi besar sebagai budak-budak, tetapi ketika orang-orang Eropa itu menyadari bahwa suku-suku aseli Amerika tidak mudah ditundukkan, mereka mengubah pendekatannya dengan kebijakan nasional relokasi dan, pada waktu itu, pemusnahan. Para pahlawan versi kita seperti Andrew Jackson mempraktikan pembersihan etnis dengan sebuah keyakinan bahwa mereka melakukan itu atas nama Tuhan dan Negara.
Many people who study and discuss issues related to Palestine are aware of the South African and North American analogies, but the general public in the United States doesn’t seem to notice that we are subsidizing these bloody policies with 3.5 billion dollars of military aid per year. Just last year, the Israeli government killed approximately 1,400 Palestinians in one campaign waged against Gaza, Operation Cast Lead, using weapons supplied by the United States. And according to the UN Humanitarian Monitor, food insecurity in Gaza this year has spiked to over 60 percent. So it’s likely that more Gazans have died as a result of the heightened blockade that has been imposed by Israel and Egypt since the attack. Now Egypt and the U.S. Army Corp of Engineers are building a massive underground metal wall to prevent Palestinian access to tunnels under the Rafah border with Egypt, a last resort for importing much needed aid and commodities.
Banyak orang yang mempelajari dan mendiskusikan isu-isu Palestina menyadari analogi Afrika Selatan dan Amerika Utara ini, tapi publik umum di AS tampaknya tidak menyadari bahwa kita mensubsidi kebijakan-kebijakan berdaran ini dengan bantuan militer 3.5 juta dollar per tahun. Tahu nlalu saja, pemerintah Israel membunuh sekitar 1.400 orang Palestina dalam satu kali kampanye penyerangan atas Gaza, Operasi Cast Lead, menggunakan senjata-senjata yang pasok oleh AS. Dan menurut Humanitarian Monitor PBB, ketidakamanan pangan di Gaza tahun ini meningkat hingga lebih dari 60%. Jadi tampaknya, lebih banyak penduduk Gaza yang meninggal sebagai hasil dari blockade yang meningkat yang telah dijalankan oleh Israel dan Mesir sejak penyerangan itu. Kini Korps Insinyur militer AS dan Mesir sedang membangun tembok metal bawah tanah yang massif untuk mencegah akses orang Palestina atas terowongan bawah tanah Rafah, perbatasan Mesir, sarana terakhir untuk mengimpor bantuan dan komoditas yang dibutuhkan.
The complicity of these major world powers became very clear to those of us who participated in the Gaza Freedom March. The Egyptian government, most certainly with an arm twisted by the Israeli and U.S. governments, did not welcome us into their country as they initially indicated they would. (Next to Israel, Egypt is the second largest recipient of US military aid. So maybe this factored into their decision.) Within one week of the March’s scheduled start date, Egyptian authorities notified us not to come.. When we arrived anyway, we were frequently detained. Our meetings were spied on and infiltrated. The vast majority of us were denied entry to Gaza. When we sought support at the U.S. Embassy, Egyptian police forcibly corralled us into a penned area outside the Embassy. U.S. officials in the embassy reiterated that we should not have come to march in solidarity with the Palestinians. When we decided to march in spite of this, we were met with riot cops, barricades and scores of secret police. Many of us were assaulted and a few suffered serious injuries.
Kolusi kekuatan-kekuatan besar ini menjadi sangat jelas bagi kita yang berpartisipasi dalam gerakan Gaza Freedom March. Pemerintah Mesir, tentunya dengan lengan terpelintir oleh pemerintah Israel dan AS, tidak menyambut baik kedatangan kita masuk ke Negara itu sebagaimana niat baik mereka sebelumnya. (Setelah Israel, Mesir adalah penerima bantuan militer AS kedua terbesar. Jadi barangkali factor ini yang menjadi dasar keputusan mereka) Seminggu sebelum tanggal dimulainya March (long march), otoritas Mesir memberitahukan kita untuk tidak dating. Ketika kami pada akhirnya tiba, kami kerap ditahan. Pertemuan-pertemuan kami dimata-matai atau diinfiltrasi. Mayoritas dari kami dilarang masuk ke Gaza. Ketika kami meminta dukungan kepada Kedutaan AS, polisi Mesir menggiring paksa kami ke area yang telah ditentukan di luar Kedutaan. Para petugas kedutaan menegaskan bahwa kami seharusnya tidak ikut dating ke march solidaritas bersama orang-orang Palestina. Ketika kami memutuskan ikut march terlepas larangan ini, kami bertemu dengan polisi huru-hara, barikade-barikade dan sejumlah polisi rahasia. Banyak dari kami mengalami penyerangan dan sejumlah orang mengalami luka serius.
This treatment was only a small taste of the Palestinian experience. The daily suffering caused by the separation of Palestinian families was highlighted by the drama of having persons from the Palestinian Diaspora with us on the march. Because of the siege, many of these Palestinian marchers, now relocated to other countries, had been separated from their families for great lengths of time and others had not even been able to meet their relatives living in Palestine. It was heart wrenching to see
Perlakuan ini hanya sedikit rasa pengalaman yang dialami oleh orang Palestina. Penderitaan harian yang diakibatkan oleh pemisahan keluarga-keluarga Palestina digambarkan oleh orang-orang Palestina yang berdiaspora, yang ikut bersama kami dalam rombongan march. Karena pengepungan itu, banyak dari orang-orang Palestina yang ikut march ini, sekarang terelokasi ke Negara-negara lain, terpisah dari keluarga-keluarga mereka untuk sekian waktu yang sangat lama, dan beberapa bahkan tidak pernah bisa menjumpai kerabat mereka yang tinggal di Palestina. Hal yang sangat memilukan untuk dilihat.
Additionally, Palestinian activists in Gaza, the West Bank and East Jerusalem risk indefinite incarceration for organizing non-violent demonstrations and resistance activities. Many are arrested on trumped charges, like Abdallah Abu Rahmah, an organizer for the “Stop the Wall” campaign. Abdallah has been incarcerated and charged with weapons possession for collecting used tear gas canisters shot at him by the Israeli Defense Forces during a peaceful protest. Many others like Mohammad Othman, have been held for months without charges being brought at all. Mohammad was arrested while returning from addressing the Norwegian national pension fund about divestment from Elbit Systems, a major Israeli military contractor. Beyond detentions, Palestinians regularly face extra-judicial killings from air strikes, similar to last night’s attacks near the Rafah border, carried out by the Israeli Air Force.
Sebagai tambahan, para aktivis Palestina di Gaza, di Tepi Barat dan Jerusalem Timur menghadapi resiko penahanan ketika mengorganisasi demonstrasi dan perlawanan tanpa kekerasan. Banyak yang ditahan dengan dakwaan yang mengada-ada, seperti Abdallah Abu Rahmah, seorang pengelola kampanye Stop the Wall. Abdallah ditahan dan didakwa atas kepemilikan senjata untuk dikumpulkan, gas airmata ditembakkan kepadanya oleh Tentara Pertahanan Israel dalam sebuah aksi damai. Banyak yang lain, seperti Mohammad Othman, ditahan berbulan-bulan tanpa dakwaan sama sekali. Mohammad ditahan saat kembali setelah membahas dana pensiun nasional Norwegia tentang divestasi dari Elbit system, sebuah kontraktor besar militer Israel. Di luar penahanan, orang-orang Palestina secara rutin menghadapi pembunuhan di luar-peradilan dari serangan-serangan udara, sama dengan serangan malam tadi dekat perbatasan Rafah, yang dilakukan oleh Pasukan Udara Israel.
The Gaza Freedom March also gave us a sense of the Egyptian political experience. It’s quite farcical for the United States and Israel to talk of advancing human rights in the region when they are allied with Hosni Mubarack’s regime in Egypt. We witnessed first hand how the Egyptian government treats freedom of speech and assembly, especially when it comes to Egyptian citizens. Many Egyptian activists joined us in our demonstrations and they were singled out by plain-clothes police officers and forcefully made to leave. Often times they were followed home.
Gerakan Gaza Freedom March juga memberikan kami sebuah penginderaan terhadap pengalaman politik Mesir. Cukup menggelikan bagi Amerika Serikat dan Israel untuk membicarakan upaya memajukan hak asasi manusia di wilayah itu, ketika mereka berkongsi dengan rezim Hosni Mubarack di Mesir. Kami menyaksikan secara langsung bagaimana pemerintah Mesir memperlakukan kebebasan berserikat dan berbicara, khususnya terhadap penduduk Mesir sendiri. Banyak aktivis Mesir bergabung dengan kami dalam demo-demo kami dan mereka ditarik oleh para petugas polisi berpakaian sipil dan dipaksa untuk pergi. Sering kali mereka diikuti ketika pulang.
On one occasion, a young Egyptian-Palestinian woman was pulled out of our meeting by a senior officer who sent an undercover policeman after her. We formed a group to accompany her and made sure she made it home safely and without harassment. Every Egyptian activist I spoke with assured us if that had it not been for the international presence and attention around the Gaza Freedom March, they would have immediately been arrested, taken to a secured center and likely tortured for publicly demonstrating in support of Palestine. Still, Egyptians were eager to organize and wanted to hold meetings about how to further the movement. Much of the content of these clandestine meetings centered around forming a campaign of direct action to stop the underground wall being built between Egypt and Gaza. As a first step, international members of the march signed on as plaintiffs in a lawsuit with our Egyptian counterparts to challenge the legality of the underground wall.
Pada satu kesempatan, seorang perempuan muda berdarah campuran Mesir-Palestina (wow pasti cantik yaalah;)) ditarik dari pertemuan kami oleh petugas senior yang mengutus polisi menyamar untuk mengejarnya. Kami membentuk sebuah kelompok untuk menemaninya dan memastikan ia pulang dengan selamat tanpa mengalami pelecehan. Setiap aktivis Mesir yang berbicara dengan saya meyakinkan kami bahwa kalau bukan karena keberadaan masyarakat Internasional dan peratian seputar Gerakan Gaza Freedom March, mereka pasti sudah segera ditangkap, dibawa ke pusat pengamanan dan tentunya disiksa karena secara terang-terangan ikut berdemonstrasi mendukung Palestina. Tapi tetap saja, orang-orang Mesir mau mengelola dan mengadakan pertemuan-pertemuan seputar bagiamana melanjutkan gerakan ini. Sebagian besar konten dari pertemuan ini berpusat di sekitar pembentukan sebuah kampanye aksi langsung untuk menghentikan pembangunan tembok bawah tanah yang sedang berlangsung di antara Mesir dan Gaza. Sebagai langkah pertama, anggota-anggota internasional dari gerakan pawai didaftarkan sebagai penggugat dalam sebuah gugatan bersama rekan-rekan aktivis Mesir kami, untuk menentang legalitas tembok bawah tanah tersebut.
With all the difficult decisions and unexpected frustrations surrounding the march, I was still very encouraged by the project. I found strength in Cairo among the marchers and the international movement they represented. The worldwide movement in solidarity with Palestinians is obviously alive and growing. Roughly 1300 delegates from 43 countries participated in the march, and those whom I met were some of the finest and most dedicated people I’ve come across. Not only that, I know the participants were only a fraction of the people from their communities concerned about Gaza who were not able to make it to the march. Each delegation brought its strengths. It was exciting to see the different organizing tactics employed, such as the French contingent’s decision to hold an encampment for nearly one week in front of their embassy.
Dengan semua keputusan-keputusan yang sulit, dan sejumlah keadaan frustratif yang tak terduga mengelilingi gerakan pawai itu, saya masih sangat terdorong dengan proyek itu. Saya menemukan kekuatan di Cairo dari para anggota pawai dan gerakan internasional yang mereka wakili. Gerakan mendunia solidaritas terhadap Palestina ini, jelas hidup dan berkembang. Secara kasa terdapat 1.300 delegasi dari 43 negara yang ikut dalam pawai, dan mereka yang saya temui merupakan orang-orang terbaik dan paling berdedikasi yang pernah saya temui. Terlebih, saya tahu bahwa para partisipan ini hanyalah sebagian kecil dari anggota komunitas mereka yang juga sangat perhatian terhadap Gaza dan tidak bisa ikut dalam pawai. Tiap delegasi membawa kekuatannya sendiri. Sangat menarik melihat taktik-taktik organisasi berbeda yang digunakan, seperti kontingen PErancis yang memutuskan untuk membuat perkemahan nyaris seminggu di depan kedutaan mereka.
The Cairo declaration was formed and the South African group gave us insight to further focus the Boycott Divestment Sanctions Movement (BDS) through “campaigns to encourage divestment of trade union and other pension funds from companies directly implicated in the Occupation and/or the Israeli military industries.” They suggested very specifically targeting companies in our areas that both enable and profit from the occupation. For instance, Boeing, based in Chicago, exports Apache helicopters and F16 Eagle fighter planes to Israel that are regularly used in Israeli military operations in the Occupied Territories. Tactically, it makes a lot more senses to focus a campaign on Boeing than to randomly avoid an Israeli product at a supermarket, though you may want to do that too.
Deklarasi Kairo terbentuk dan kelompok Afrika Selatan memberi kami wawasan untuk lebih memfokuskan Gerakan Boikot Sanksi divestasi (BDS) melalui "kampanye untuk mendorong divestasi serikat buruh dan dana pensiun lainnya dari perusahaan-perusahaan yang secara langsung terlibat dalam Pendudukan dan / atau industry militer Israel. " Mereka menyarankan target-target perusahaan yang sangat spesifik di daerah kami yang melakukan baik upaya mendorong, dan mengambil keuntungan dari pendudukan. Sebagai contoh, perusahaan Boeing, yang berpusat di Chicago, mengekspor helicopter Apache dan pesawat-pesawat tempur Eagle F16 ke Israel, yang digunakan secara rutin dalam operasi-operasi militer Israel di daerah pendudukan. Secara taktis, ini membuat lebih banyak perhatian untuk memfokuskan kampanye memboikot Boeing daripada secara random menghindari produk Israel di supermarket, meskipun anda juga boleh/ mau melakukan itu juga.
This siege may not have been broken on December 31st, but this year started much differently for the people of Gaza when contrasted with the devastation of last year’s Operation Cast Lead. Organizers, activists and people in Gaza expressed their gratitude for the efforts of the Gaza Freedom March. International attention was focused on Gaza and there were solidarity marches all around the world.
Pengepungan ini barangkali tidak berhasil dihentikan pada Desember 31, tapi tahun ini dimulai secara berbeda bagi orang-orang Gaza, jika dibandingkan dengan kehancuran yang dibawa oleh Operasi Cast Lead tahun lalu, banyak aktivis dan penduduk di Gaza menunjukkan rasa terima kasih mereka atas upaya-upaya yang dilakukan oleh Gaza Freedom March. Perhatian Internasional terfokus pada Gaza dan terdapat banyak aksi-aksi solidaritas di seluruh belahan dunia.
With this attention, the international community has reached a critical point to put pressure on the U.S, Egyptian and Israeli governments to stop the siege. Despite being embarrassed by the bad press, Egypt and the United States are going ahead with construction of the underground the wall. Furthermore, Israel’s Prime Minister, Benjamin Netanyahu, is threatening to launch more operations like Cast Lead. The attacks launched this morning lend ominous credibility to these threats. Our friend in Gaza has said in the past that he longs for a chance to live a normal life, unencumbered by siege and constant fear of bombings. He understandably believes that there is very little chance that his voice will be heard in the halls of powerful governing bodies. But we can and must join our voices with his. Our urgent task is to widely announce the Cairo Declaration’s call for BDS and to steadily build a stronger worldwide movement of non-violent direct action, inclusive of civil disobedience, to end the siege and occupation.
Dengan perhatian ini, komunitas internasional telah mencapai titik kritis untuk membuat tekanan ke Pemerintah AS, Mesir dan Israel untuk menghentikan pengepungan. Meskipun dipermalukan oleh media, Mesir dan AS terus melanjutkan pembangunan tembok bawah tanah. Ditambah lagi, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengancam untuk kembali melancarkan operasi seperti Cast Lead. Serangan yang berlangsung pagi ini, memberikan gambaran bahwa ancaman itu bukan omong kosong belaka. Teman kami di Gaza dulu pernah mengatakan bahwa dia merindukan kesempatan untuk menjalani hidup normal, tidak dihantui oleh pengepungan dan ketakutan konstan terhadap pemboman. Dia secara sadar percaya bahwa terdapat sedikit sekali kemungkinan suaranya akan didengar di aula pemerintahan-pemerintahan yang berkuasa. Tapi kita bisa dan harus ikut menyamakan suara dengan jeritannya. Tugas penting kita adalah untuk secara luas mengumumkan deklarasi Cairo untuk melakukan BDS dan secara stabil membangun gerakan mendunia dari aksi non-kekerasan langsung, pembangkangan sipil yang inklusif, demi mengakhiri pengepungan dan pendudukan.
- Joshua Brollier is a Co-Coordinator for Voices For Creative Non-Violence. He contributed this article to PalestineChronicle.com. Visit: www.vcnv.org.
Thursday, 31 December 2009
ATas Nama Kebaikan Manusia
Terjemahan ini kudedikasikan untuk sahabat-sahabat Palestina, maaf karena belakangan ini sedikit melupakanmu.
Atas Nama Kebaikan Manusia
Oleh Stuart Littlewood sebagaimana diterjemahkan secara bebas oleh Umar Badarsyah dari artikel asli berjudul In the Name of Human Decency
sumber http://www.aljazeera.com/news/articles/39/In-the-name-of-human-decency.html
Tenang Bapak Suci, Viva Palestina dan George Galloway sedang melakukan pekerjaan itu untukmu.
Saat orang-orang terkemuka, para duta, delegasi-delegasi hak asasi manusia, para pencari fakta datang dan pergi penderitaan Gaza terus berlangsung dan dari hari ke hari bertambah parah. Ini karena kepemimpinan komunitas internasional yang korup, di mana keberadaannya sendiri merupakan skandal di era kita.
Tapi kini akan datang secercah sinar keceriaan Natal bagi orang-orang Palestina yang terisolasi dan kelaparan, terpenjara di wilayah pendudukan sepanjang tepi laut.
Pada periode tertentu di bulan Februari mereka akan mendapatkan sebuah kunjungan dari tidak lain tidak bukan Uskup Besar Canterbury, Rowan Williams. Setidaknya itulah yang dikabarkan oleh pihak kantornya di Istana Lambeth Ya, Uskup Agung di Inggris tinggal di istana-istana dan bergaul di House of Lords (DPR utusan Golongan/Kamar Atas di Inggris-parlemenbikameral).
Figur religious top Inggris tersebut berharap menyapa Rumah Sakit Al-Ahli yang ia bangun dengan beberapa ribu pound tahun sebelumnya. Rumah Sakit Al-Ahli adalah sarana kesehatan berkapasitas 80 tempat tidur yang digunakan untuk penanganan gawat darurat dan klinik berjalan di Gaza. Saat serangan dahsyat setahun yang lalu, rumah sakit itu menangani banyak korban-korban luka. “Jelas sekali situasi di Gaza sangat menyedihkan,” demikian dikatakan pihak Istana (Palace). Dengan beberapa penganut Anglikan di bawah pimpinan Uskup Jerusalem Suheil Dawani di daerah itu, mereka aktif melakukan kegiatan pertolongan kemanusiaan dan advokasi.
It bisa saja terjadi. Tapi di sini di Inggris sendiri hal itu jarang disebut-sebut.
Apakah ini mungkin terjadi karena surat terbuka saya kepada sang Uskup Agung bulan lalu memacunya untuk melakukan sesuatu? Saya menuntut hal berani apa yang bisa dia dan rekan-rekan sejawatnya bisa lakukan di waktu Natal ini untuk mengintervensi dan membawa kemanusiaan, pertolongan praktis, dan spiritual untuk membantu semua keluarga Kristen dan Muslim yang telah bertahun-tahun ditekan dan disiksa secara kejam oleh rezim Israel dan para pendukungnya.
“Mengapa tidak mengunjungi wilayah pantai tersebut?” Saran saya. “Mintalah Brown dan Blair untuk memperbaikinya, dan jangan katakan tidak sebagai jawaban. Gembleng dan ingatkan pemerintah tugas Kekristusan mereka untuk mempertahankan dan melindungi orang yang lemah: dan seseorang memang sudah seharusnya melakukan itu. Tentu saja hal itu merupakan tugas bagi orang-orang beradab, Kristen atau bukan.”
Akankah sang Uskup Agung membawa senyuman di wajah Tuhan?
Jika berkaca pada respon-respon sebelumnya, para penduduk Gaza tak perlu terlalu antusius. Saya tidak pernah melihat satupun pernyataan sang Uskup Agung tentang Gaza di websitenya selama hampir setahun. Dan saat Israel merencanakan Operasi Cast Leadnya yang terkenal, yang kemudian menghasilkan pembantaian keji atas ratusan wanita-wanita dan anak-anak Palestina, Sang Uskup Agung menemani Kepala Rabbi Sachs ke Auschwitz untuk berceramah menentang genosida dan pertikaian ekstrim. Sang Uskup Agung menyebut Auschwits sebagai “tempat kebiadaban” dan membicarakan korupsi kolektif dan kebejatan moral yang membuat holocaust terjadi.
Jika dan ketika ia jadi tiba di Gaza nanti. Ia akan menyaksikan bentuk holokus yang lain. Ironi pesannya tentang Auschwitz tidak lantas hilang bagi penduduk Gaza yang terkepung, dan yang hingga kini masih berada dalam hari-hari penuh pemboman oleh para penyiksa gila mereka.
Sayangnya pihak Istana Lambeth tidak memberikan informasi detail perjalanan Sang Uskup Agung. Siapa yang akan ia kunjungi? Akankah ia mengunjungi Rumah Sakit Al-Shifa yang kewalahan menangani bagian terberat dari para korban? Akan kah ia membawa angin segar bagi Ismail Haniyeh, Perdana Menteri sah Palestina, seorang uskup kepada imam (pemimpin)? Akankah ia mengunjungi menteri kesehatan, Basem Na’im? Akankah ia mengunjungi Bapak Manuel Musallam, pendeta terhormat yang menjadi pelindung bagi komunitas Kristen dalam menghadapi jam-jam terkelam di Gaza? Bapak Manuel, lelaki sejati nan tabah itu, telah pensiun baru-baru ini, tetapi barangkali masih bisa dihubungi di Tepi Barat.
Akankah Ia (Uskup Agung) mendayung di pantai Gaza? Akankah ia ikut menjala jarring ikannya di perairan bersama para nelayan Gaza, dan mencaci penembakan yang dilakukan oleh kapal-kapal perompak Israel?
Para penduduk Gaza barangkali bisa menuliskan saran-saran yang membantu ke publicaffairs@lambethpalace.org.uk.
Will Rowan Williams bring a smile to the face of God? I hope so, for it is not too late. Akankah Rowan Williams membawa senyuman ke wajah Tuhan? Saya berharap ya, karena itu belum terlambat.
Jika dia jadi datang, maka ia telah melakukan sesuatu yang lebih ketimbang Paus. Individu berjubah mahal, yang punya kedudukan lebih besar bagi Tanah Suci dari siapapun di dunia Barat, awal tahun ini ‘menahan diri’ untuk mengunjungi reruntuhan berasap Gaza sekedar menunjukkan solidaritas bagi gembalanya yang ketakutan, dan malah memerankan turis di Wilayah Pendudukan bersebelahan dengan wilayah konflik. Paus memilih kata ‘menahan diri’ sebagai alasannya kepada media. Alasan yang ibarat pukulan bagi amarah yang tidak lagi tertahankan, seperti menahan diri dari birahi sex, dan membuat marah besar orang-orang yang telah sangat menderita.
Jika Pelayan Jesus ini adalah sebuah kekuatan kebaikan, mana armada yang seharusnya ia kirim untuk menolong komunitas Kristennya dan untuk saudara-saudari Muslim-nya?
Tenang Bapak Suci…Viva Palestina dan George Galloway sedang melaksanakan tugas itu. Mereka sedang melakukan tugasmu untuk mu dan berupaya menghancurkan blokade iblis itu. Kau sebenarnya bisa melakukannya atas nama Tuhan. Mereka melakukannya atas nama kemanusiaan.
Nampaknya garam untuk bumi dari kota kami---yang terdiri dari orang-orang Kristen, muslim, atheist bahkan yahudi—yang telah mengorganisisr, bergabung dan mendukung konvoi, lebih memiliki pemahaman terhadap semangat dan ajaran Kekristusan dari pada orang-orang yang belajar mendalam di pusatnya di VAtikan.
Saya tidak bisa menemukan satupun referensi spesifik terhadap tragedy kemanusiaan yang terjadi di Tanah Suci dalam website Vatikan. Sang Paus ‘menahan diri’ dari menyebutkannya bahkan dalam pesan perayaan menyambut HAri Perdamaian Dunia, 1 Januari 2010.
Sebagaimana saya juga tidak melihat ucapan selamat bagi para penduduk Gaza pada website Istana Lambeth.
KEtika Uskup Agung Rowan kembali pulang dari kunjungan bersejarahnya nanti, apa yang akan ia lakukan? Dia dan 25 rekan sejawatnya duduk di parlemen atas Inggris (house of Lords). Mereka memiliki pengaruh. Namun dalam kesempatan penelusuran singkat terhadap situs theyworkforyou.com saya tidak bisa menemukan catatan terkini soal bagaimana anggota super dari golongan pendeta ini menyuarakan pertanyaan, keberatan atas pembantaian yang dilakukan oleh Israel, penyiksaan tiada berakhir terhadap komunitas muslim dan Kristen dan pembatasan tanpa hak terhadap Tanah Suci secara umum. Tidak pula ada kritisisme terhadap ketidakberdayaan pemerintah Inggris atasnya.
Ketika para pemimpinnya telah melihat dan mendengar kebenaran pahit langsung dari sumbernya, dan melaporkannya, apa yang kiranya dilakukan oleh Kegerejaan Anglican sebagai kesatuan untuk memulai proses peningkatan kondisi kemanusiaan di Tanah Suci dan menjaga legasi spiritualnya?
Malam Natal, 2009
--Stuart Littlewood adalah penulis buku Radio Free Palesine, yang menjelaskan dilemma orang-orang Palestina di bawah pendudukan.
Tuesday, 29 December 2009
Yuk Kita Temukan Metode Jari Menghafal Al-Qur'an
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang Maha Rahman, Maha Rahiim, dan Maha Sempurna dalam menciptakan manusia.
Salah satu kesempurnaan Allah adalah hikmah jari tangan yang lima. Dengan basis jumlah lima jari tangan dan variasinya banyak orang yang menemukan metode menghitung cepat dengan jari.
Terinspirasi oleh tips metode menghafal Al-Qur'an yang di copas salah seorang Muslimah shalehah di Multiply silahkan di lihat di http://ulict.multiply.com/journal/item/46/Cara_Termudah_Menghapal_Al_Quran?replies_read=43 , saya berfikir untuk mengajak teman-teman sekalian untuk mengembangkan metode Jari menghafal Al-Quran.
Pagi ini, Allah menitipkan ide itu. Saat sedang mengulang dan mempertajam hafalan Juz 30, maklum baru Juz itu dan sebagian Juz satu yang baru saya hafal. Jadi bisa ngeklaim apal Al-Qur'an, paling enggak kalo bikin rumah udah punya pintu depan dan pintu belakangnya...wakakakak.
Klo dalam tips itu bilangan menghafalnya yang dipake per empat ayat. Saya pikir tanggung kenapa nga lima ayat ...trus kepikiran lah klo lima kita bisa make jari tangan...trus cling Eureka!!! Kita kembangin metode menghafal dengan Jari yuk!!
Dengan menggunakan lima jari bisa membantu menghafal dengan efektif ayat ke berapa kita hafal...Jadi klo ditest misalkan an-Naba ayat ke dua belas misalkan kita langsung bisa sebut ayatnya ' wa banaynaa fawqokum...' Klo ayat ke dua enam kita langsung sebut 'Jazaa awwifaaqo' Nah klo 43??
Ya nga ada lah ...la wong An-Naba cuman 40 ayat!!! ;p
Gimana caranya?
Nah, Alhamdulillah kita punya dua tangan dengan masing-masing lima jari. Basis penggunaan bilangannya adalah lima dan sepuluh.
Gunakan tangan kanan untuk menghitung saat menghafal Al-Quran. mulai baca ayat satu, tekuk jari jempol kanan, ayat dua jari telunjuk dan seterusnya hingga lima ayat maka dikau akan menemukan tangan kananmu mengepal begitu sudah membaca lima ayat. Nah saat membaca ayat ke enam silahkan pilih mau mulai buka jari kelingking dahulu atau jempol, yang jelas begitu ayat ke tujuh buka jari yang selanjutnya hingga ketika ke sepuluh tangan kananmu dalam keadaan semua jari terbuka.
Nah saat bilangan mencapai sepuluh tangan kiri mulai beroperasi. Sepuluh pertama tekuk jari jempol..sepuluh kedua telunjuk, begitu seterusnya hingga bilangan lima puluh. Nah saya baru dititipin untuk sampe surat2 yang jumlah ayatnya di bawah enam puluh. Barangkali nanti Allah menitipkan ilmu kepada sahabat-sahabat saleh lain untuk yang ratusan.
Dengan basis puluhan dan limaan ini akan sangat membantu menghafal Al-Quran lengkap dengan ayat keberapanya. Misalkan klo ditanya An-Naba ayat ke dua belas di atas misalkan. Posisi jari adalah kiri jempol menekuk yang berarti sudah sepuluh, dan tangan kanan dua jari jempol dan telunjuk menekuk. gunakan itu sebagai simbol mentrigger memori. Jadi Dengan lambang itu, dan frekuensi kita menghafal berkali-kali (di postingan sahabat di atas diulangnya 20 kali...aku pikir agak berat, aku baru sanggupnya lima kali) akan membantu kita dengan baik dan efektif mengetahui ayat ke berapa yang kita baca.
Demikian. Silahkan dilanjutkan untuk dikembangkan, semoga menjadi amalan jariyah.
Wallahu'alam bishawab
Sunday, 20 December 2009
Teknik Jitu 'Menculik' Bayi
Aku tidak tahu apakah ini bakat, atau memang turunan. Di rumah ada dua bayi kembar, Hasyim dan Hisyam. Jika keduanya sudah merajuk, tak ada yang bisa menjinakkan keduanya kecuali kakek mereka, which is Abiku. Ayahku punya ribuan cara untuk menjinakkan bayi-bayi, atau menarik simpati anak-anak kecil. Dan yaaa meski tidak sedahsyat daya tarik Ayahku bagi anak-anak kecil...I have a little touch of my own.
Berikut adalah teknik-teknik jitu untuk merebut hati balita.
Langkah pertama:
Aku yakin tatapan adalah jembatan pertama menaklukkan anak-anak, beri mereka nanar mata yang satu frekuensi dengan sinar jenaka mereka. Pancarkan kejenakaanmu dalam nanar matamu, beri sedikit senyum dengan kadar yang pas, secukupnya jangan berlebihan karena besar kemungkinan menimbulkan kecurigaan. Saat dia membalas senyummu berati kau sudah 30% berhasil. Jangan takut kalau dia tidak membalas senyummu. anak kecil yang terlihat heran, sedikit penasaran juga berarti setidaknya kau 15 persen berhasil
Langkah kedua:
Bahkan balita pun tak kuat pujian. Ini naluri dasar manusia pada umumnya, dan tak ada saat-saat yang paling kau 'memakan' pujian kecuali saat kau sedang masa-masa dini (sotoy mode on). Jadi langkah yang harus kau lakukan adalah melontarkan pujian. Oh untuk lebih memastikan pujianmu efektif, lakukan dengan perasaan dan yakinkan bahwa pujian itu memang dikhususkan buat si bayi. misalkan saat kau berhasil merebutnya dari gendongan ibunya, dan dia dalam pelukanmu bisikan pada sang bayi pujian seperti, "waahhh rambutmu harum sekali aku yakin kau memakai produk mahal terbaru dari Johnson and Johnson".
Sebagai informasi merek JnJ tersebut adalah merk ternama dikalangan para bayi, jangan sebut merek Lifebouy. Meski dikenal sebagai produk kesehatan, tidak semua bayi merasa nyaman disebut bayi yang overprotected kebersihan dan kesehatannya.
Pujian lain yang biasanya membuat para bayi jatuh lunglai hatinya adalah, " Oh liat popok nyaman super rekat yang kau pakai! begitu trendy", atau 'Wow kau tampak nyaman dengan popok itu," tak usah kau sebut merek kali ini. Mereka tidak suka membanding-bandingkan merek untuk soal popok. ini berkaitan dengan privasi. Satu bayi dan yang lainnya cocok-cocokkan soal diapers.
Beberapa bayi senang jika ketika dipuji, ada hadiah tertentu yang bisa kau berikan. Mereka tak menuntut banyak. Cukup sesuatu yang bisa menarik rasa penasaran mereka. Dalam hal ini memang sifatnya juga soal selera. Ada bayi yang cukup kau berikan permen misalkan. Ada yang baru memberimu perhatian saat kau memberikannya Blackberry...Hei jangan salahkan para bayi. Mereka toh saat ini adalah generasi produk globalisasi. Soal waktu saja saat bayi hanya akan mempedulikanmu jika kau datang dengan laptop keluaran terbaru. Jadi pastikan kau mengincar bayi yang memang dalam jangkauan modalmu. Catat itu!
Langkah ketiga:
Kau harus memahami, bahwa indera bayi pada masa-masa awal yang banyak berkembang adalah indera sentuhan. Fase kedua adalah indera perasa. Dengan memahami dua hal ini maka teknik paling tepat selanjutnya adalah menyuapi sang bayi. Satu langkah dua pukulan. Ini sudah masuk ke cara, tapi yang paling penting atau inti dari langkah ketiga adalah komitmen. Ya kau tak salah membaca. KOMITMEN.
Bayi-bayi jaman sekarang tidak mudah untuk ditaklukkan. Mereka menuntut komitmen yang kuat sebelum memberikan kepercayaan. Kau harus datang dengan kesungguhan tawaran komitmen itu. Menyuapi adalah satu langkah yang progressif. Beberapa cukup kau ajak bermain, bernyanyi atau melakukan aktivitas lainnya yang menghibur mereka. Di sini survei dan collecting data tentang calon korban sangat penting. Untuk bisa menentukan cara terbaik agar mereka melihat komitmen kesungguhan kita adalah hal yang bukan kepura-puraan saja.
Langkah ke-Empat:
Beri mereka kepercayaan! Kau tak bisa memisahkan komitmen dengan kepercayaan. Jika kata kedua tidak mampu kau berikan, maka mereka dengan mudah membatalkan hubungan batin yang sudah susah payah kita upayakan. Bagi mereka tanpa kepercayaan, kau hanya berarti sama dengan orang-orang yang mau memanfaatkan mereka. Mereka butuh ruang untuk berkembang, dan sangat menghargai orang-orang yang memberikan kepercayaan itu.
Jadi, jika kau memutuskan memakai cara menyuapi bayi calon korban pada langkah ketiga, pastikan saat kau merasa sang bayi sudah pada batas cukup diberikan asupan gizi, untuk memberinya kesempatan makan, dan menyuap sendiri. Yaa haislnya memang mereka belepotan, atau malah makanan mereka jadikan mainan. Tapi hey..INGAT! beri mereka ruang, beri mereka kepercayaan.
Langkah Ke Lima:
Konsistensi. Semua hal, dari mulai rayuan, komitmen, dan kepercayaan akan berarti satu: KEGAGALAN!!! Jika dan hanya jika tidak disertai dengan konsistensi. Kau harus membuktikan konsistensi itu, untuk menunjukkan bahwa kau sungguh-sungguh berkomitmen pada sang bayi. Beri mereka afeksi yang spesial. Ingat perkembangan inderawi bayi pada tahap-tahap awal ada pada sentuhan. Alirkan dan curahkan perasaanmu (hmm berhubung ini tips untuk para penculik bayi, maka perasaan yang diolah, atau artifisial).
Demikian lima teknik andal mendekati para bayi. Jika kau beruntung saat orangtua mereka lengah. Maka tanpa perlawanan kau bisa membawa mereka ke manapun wilayah aman yang kau inginkan.
Oh..aku hampir lupa hal lain yang tak kalah penting. Bayi senang jika mereka merasa memonopoli perhatianmu. Jadi untuk sementara acuhkan semua kegaduhan atau hal-hal menarik lainnya yang bisa mengalihkan perhatianmu. Curahkan perhatianmu hanya dan hanya untuk sang bayi. Mereka akan merasa diri mereka memang dainggap spesial olehmu. Maka kau harus acuhkan candaan teman-teman di sekelilingmu dan hanya memberikan perhatian pada sang bayi saja. seperti ini:
Dan sekali lagi, monopoli perhatian dan konsistensi sekaligus. Berarti komitmenmu, tak lagi diragukannya.
Owwhhhh sekiranya profesiku adalah penculik bayi....aku sudah kaya raya saat ini. Ya Allah terima kasih karena tetap menjadikanku memilih jalan hidup yang waras-waras saja.
Catatan: model bernama Sara (nama sebenarnya). Sebenarnya ada testimoni beliau sendiri, tapi berhubung sedang kekurangan tenaga penerjemah bahasa bayi bersertifikasi, jadi hasil verbatim belum bisa dinarasikan. TErima Kasih.