Thursday, 4 September 2008

Pejalan Tangguh I

Segala puji bagi Allah yang Maha Berkehendak, Maha Menciptakan, yang atas kehendak-Nya hamba diberikan sepasang kaki yang sempurna dan kuat .....

Saya khawatir kalau judul pejalan tangguh itu tidak sesuai dengan kaedah Bahasa Indonesia, berhubung nilai mata pelajaran Saya tidak terlalu istimewa untuk pelajaran ini. Sepanjang ingatan Saya , Nilai Ebtanas Murni SMP untuk Bahasa Indonesia yang Saya capai hanya 6,69. Angka yang terbalik Saya dapat untuk Bahasa Inggris. Saya minta teman-teman memaklumi, yang Saya maksud dengan judul tersebut adalah keinginan untuk menggambarkan sosok pribadi yang doyan jalan, jalan kaki. Apa awalan Pe- bisa menjadi 'orang yang suka', entah Saya butuh masukan dari kawan-kawan yang lebih ahli. Oh iya jangan gusar kalau saya sering mengganti penggunaan kata ganti subyek dengan Saya kadang Aku, kadang I atau malah GUe, kesanlh yang ingin saya tonjolkan, sebisa mungkin suasana akrab yang melibatkan emosi pembaca Saya coba tawarkan...butuh banyak kritikan juga neh dari teman-teman.

 Berjalan kaki itu menyenangkan, menyehatkan, I burn a lot of calories and fat when I am walking...Owh mungkin ini salah satu alasan kenapa berat badan Saya tak pernah naik. Damn, kalau kau tahu seberapa banyak Saya makan , you'll be wondering where do they go... heheh semoga ini nga bikin iri 'ibu-ibu' yang mudah gendut gara-gara nyemil...My tips: WALK!!
 
 Dengan banyak berjalan Saya memberikan banyak waktu bagi pikiran untuk berkontemplasi, memaknai beberapa kejadian yang dialami hari itu, atau kemarin, atau mencoba memprediksi, melukis dalam khayal apa yang mungkin terjadi...tapi sejujurnya porsi yang lebih besar adalah untuk menciptakan drama-drama dalam panggung benak khayali, read my other posts, you'll find that I am a person who love to talk to my self, freak....

Dengan berjalan juga Kita bisa menggapai mutiara hikmah kehidupan, melihat realita zaman kalabendu yang penuh ketidakadilan....Kau tahu di BIntaro sana rumah-rumah mewah tak sampai berjarak 100 meter dari rumah-rumah gubuk yang berlantai tanah, Kau tahu betapa kerasnya kehidupan yang dilalui oleh anak-anak jalanan, para pengemis, pengamen, gembel...kau tahu seberapa picik orang terbaik sekalipun mampu bertindak...Kau bisa merasakan kebaikan hati dari orang yang paling kau anggap hina...dan bisa merasakan kelicikan orang yang statusnya terlihat jauh lebih baik...Arungi kehidupan , tangkap ribuan makna dengan berjalan!

Dengan berjalan juga Kau dapat menemukan pengalaman menarik, lucu, menantang, atau membuat petualangan kecil.

Berikut adalah momen-momen perjalanan yang berkesan yang pernah Saya alami. Awalnya mau Saya urut berdasarkan usia, tapi agaknya kesan akan lebih saya utamakan dalam urutan jejak rekam petualangan, berjalan kaki. Semoga tidak kepanjangan....

Psr Rebo - Rempoa, Menjemput Cinta Berpulang Duka (Lucu)

Huahhahahhah, ini perjalanan yang paling berkesan...Banyak orang yang tidak percaya kalau jalan dari Pasar Rebo sampai Rempoa pernah Saya lalui dalam semalam, tepatnya 3 jam setengah mungkin. Menyusuri jalan tol, kemudian TB Simatupang, Lebak Bulus, Rempoa(Situ Gintung)...

Berawal dari keinginan untuk mengambil titipan barang, dari seorang teman yang sedemikian penting bagiku, begitu berarti, waktu itu, jauh sebelum I mendapatkan kesadaran akan arti cinta Dia Yang Maha Cemburu. Alhamdulilah, Hadaanallah. Barang itu harus Saya ambil di Bogor, Kampus IPB tepatnya. 

Nah dasar ABG SMA, modal nekat demi cinta, cuiiih, Astagfirullah. Punya uang nga seberapa, tapi sudah diperkirakan cukup untuk pulang pergi. Berangkatlah dengan tekad membara. Sesampainya disana ternyata agak mengecewakan karena barang itu tertinggal di Jakarta..wuek...kaciaan deh loh...


Tak bisa berlama-lama bertamu karena orang yang saya temui perempuan (kakak dari si penitip barang) dan itu perumahan para dosen, Saya pun tak ingin pulang terlampau larut, di luar mendung terlihat menyeramkan. Hal yang pasti biasa bagi penduduk sana. 


Pulang mulai berhitung dengan ongkos, perkiraan meleset jauh karena ternyata untuk sampai tujuan perlu naik empat kali kendaraan umum, dengan ongkos yang besar, sedang uang yang tersisa hanya cukup untuk naik 2,5 kendaraan nah lo ngitungnya gimana?


 Starteginya? jalan.....Huauahhahaha..Lewilluyang cukup asri untuk ditelusuri, naasnya hujan besar menemani perjalanan. Bemodal tas gembol, dan jaket yang dikenakan menerabas hujan besar sepanjang jalan. SEdih? Ndak justru terasa menyenangkan....ini petualangan, akan menjadi sejarah hebat sekiranya berhasil sampai pulang, dan yaa ini momen yang layak diabadikan.


Ini tips bagi teman-teman yang kerap menghadapi kesulitan: ambil angle yang berbeda, ubah paradigmamu, cari angle yang positif, dan jadikan ia pendorong tekadmu, seperti I saat itu, kondisi yang miris, dengan sedikit perenungan, menjadikannya sebagai tantangan dan petualangan, maka semangat pun kembali dan mengalirkan energi berlimpah pada kedua kaki.


Hari mulai larut malam, dalam perjalanan, karena memang Saya memulai perjalanan ba'da maghrib, setelah sholat. Momen berkesan pertama yang muncul adalah saat di depan Saya bertemu dengan pedagang somay gerobak dorong, juga mencoba melawan 'badai', tapi lebih beruntung karena cukup terlindungi dengan atap gerobak dan payung yang dipasangkan di atasnya. Melihat agaknya cukup untuk dua, terbetik ide untuk membantu sekedar mendorong sambil numpang meneduh. Nah mulailah kusapa abang Somay, yang ternyata orang sunda...ya iya laah loe kan lagi di Bogor cing....


waah agak lupa apa yang saya bicarakan tapi seputar kehidupannya, seperti kapan mulai berdagang , berangkat jam berapa, pulang jam berapa, sudah berkeluargakah?, berapa pendapatan perhari? cukupkah untuk biaya hidup? dan lain-lain.....


Lupa juga jawabnya, tapi saya masih ingat kesan yang timbul....SALUT...yaaa seingat saya pendapatan beliau terhitung kecil dengan perbandingan orang yang mesti ditanggungnya, walau jumlah orangnya juga tak seberapa...tapi penghasilannya sehari lebih sedikit dari jatah bensin temen2 kuliah Saya .... bahkan tidak sampai dua kali lipat jatah makan 3 kali saya...tapi orang-orang seperti ini tetap berjuang untuk hidup, mereka tetap survive....Sebenarnya sedikit bersyukur ketika krisis 1997 Saya masih di Cairo dengan kelebihan nikmat yang Allah berikan untuk keluarga saat itu...setelah dipikir, apakah keluarga gue bisa survive sekiranya ada di dalam negeri?

Orang-orang kecil ini bisa survive....dan jumlah mereka banyak...Jadi ingat ungkapan beberapa sarjana yang bilang kalau orang indonesia itu paling jago berakrobat dalam hidup, saat berkali-kali BBM naik, masih saja ada yang selamat....himpitan ekonomi yang secara sistemik semakin menghimpit memaksa jutaan penduduk berakrobat...kini kondisinya hampir mencapai batas nalar .... tak jauh dari Jakarta, di Banten masyarakat mengkonsumsi nasi aking atau eceng gondok untuk survive...

Nah untuk kembali ke cerita ,singkat cerita nurani tersentuh, orang kecil yang berjuang untuk betahan hidup ini tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah himpitan ekonomi yang sedemikian dahsayat, Saya tak yakin lebih banyak orang menengah atas mampu bertahan dengan tekanan hidup, banyak yang depresi, stress kena penyakit gara2 kondisi ekonomi....tapi orang ini masih mengizinkan saya orang asing, basah kuyup, untuk numpang berteduh dan jadi teman jalannya....nga ke bayang klo gue mlih hitch hiking...mana ada mobil pribadi mau berhenti,dan merelakan jok mobilnya lepek, nanti apek lagi.... (tapi itu bukan ukuran untuk menentukan kadar kemanusiaan orang kan cah? dasar....).


Cukup jauh berjalan bersama Si abang Somay sampai tiba saatnya bersimpang jalan. Berdasarkan strategi I harus jalan terus lebih jauh...tapi beberapa minibus yang lewat dengan tulisan Bogor- Lebak bulus, membuka jalan lain....a way to home...mom here I come...Setelah mengucapkan salam perpisahan dan doa serta sahlawat (yang dua ini dalam hati) untuk abang Somay, I bergegas menepi untuk menunggu bus selanjutnya yang lewat...tangan merogoh kantong...yang tersisa Rp 3.500 (tiga ribu lima ratus rupaiah saja)...waaah cukup tak yaaah.....


Sebuah bus melaju dan berhenti 3 meter di muka ...bergegas saya naik...wah nyaman rasanya setelah berkilometer jalan bisa duduk nyaman..... tapi tidak lama, karena mulai gelisah setelah naynya k epenumpang tetangga berapa ongkos yang dibuthkan , ternyata...Rp.6000 (enam ribu rupiah)...waduh ..start panicking.....pas knek menggemerincingkan tangan ke muka sisa uang seluruhnya Saya serahkan sambil bergumam , minta turun di jarak seharga uang yang dibayarkan...sang knek melirik sedikit bingung...sebenarnya I merasa klo dibujuk dan diceritakan kondisi sebenarnya sedikit saja, SAya bisa menghemat jarak jalan berkilo-kilometer, secara dari pasar rebo ke lebak bulus masih kudu lewatin condet, Tanjung Barat, Ragunan , Cipete...dan mulai memikirkan strategi pulang dari lebak Bulus ke rumah.

Tapi entah kenapa dengan bodohnya mengalah pada nurani yang mengatakan bung kau tak boleh zalim...uangmu hanya segitu maka jarak yang pantaslah yang kau dapatkan.....sob...sob..

Heit lagipula kalau pilihan ini tidak diambil, cerita ini akan berakhir lebih cepat, dan kesannya tidak lebih dalam...remember always catch a better angle...

Naaah berhenti deh di Pasar Rebo...Sebenarnya waktu awal naik tidak tahu jalur yang dilalui bus itu, tapi berhubung sudah berkali-kali lewat Pasar Rebo ketika malam pukul 1120 lewat daerah itu secara spontan berteriak minta bus untuk berhenti untuk kemudian turun....

Untuk berkata jujur, waktu itu berpikir Pasar Rebo Lebak Bulus itu dekat tidak terlalu jauh...tapi ternyata perasaan itu timbul karena biasanya naik ke tempat itu dengan kendaraan, naik tol pula....sumpah ternyata jauuuuuuuuuh banget cing! 


Nah berbekal perhitungan yang jauh keliru tentang jarak yang akan ditempuh, dan mereverse ingatan pada momen2 dimana jarak tak pernah menyurutkan semangat untuk terus berjalan, berlari, dan tetap tegar meniti tiap langkah...terus melangkah, satu dua tiga ayunan yang berarti satu dua langkah semakin mendekati tujuan...maka I tetap melangkah....


Ada beberapa kebiasaan yang tidak pernah lepas dari petualangan berjalan kaki, yang paling utama dan tidak mungkin ditinggalkan adalah menjaga 'komunikasi' dengan diri sendiri, selain sebagai media kontemplasi, muhasabah diri, ini juga metode paling ampuh untuk tetap menjaga motivasi, memanipulasi perasaan letih untuk tetap tangguh berjalan....Nah yang kedua adalah dengan bernyanyi dan hampir semua lagu adalah gubahan group musik KLA dalam kurun satu dekade pertama pengabdian mereka dalam dunia musik Indonesia, tembang -tembang hit seperti Yogyakarta, Terpuruk, SEmoga, Tak Bisa ke Lain Hati, Anak Dara, dan lagu-lagu lainnya adalah teman perjalanan yang kerap mengundang pelbagai kenangan di masa lampau, dan itu menyenangkan meski menghanyutkan....Untuk mengimbanginya beberapa hafalan Al-Quran menjadi menu utama, karena nyanyian kerap mengundang jerat-jerat setan atas hati yang mudah terlena...dan memang demikian....saat mencapai titik yang mencemaskan, seperti rasa rindu yang berlebihan misalnya...maka ingat Tuhan adalah metode terbaik untuk menyembuhkannya...Tak ada cinta di atas Laa Ilaa ha Illallaaah.....


Rangkaian tasbih, tahmid, takbir dan tahlil biasa terucap terutama ketika mempercepat langkah hingga berlari.... SElain bernilai ibadah dan mensucikan jiwa ini juga pengusir rasa takut akan gelapnya malam, gelapnya kehidupan...dulu I penakut banget, punya rasa takut berlebihan dengan makhluk halus, tapi sejak intens mengaji rasa takut justru lebih besar terhadap setan berbentuk manusia karena lebih nyata merusaknya...


Alhamdulillah tidak pernah merasa diganggu oleh makhluk halus selama dalam petualangan jalan kaki....nah baru pada petualangan ini I diganggu.......hi..hi...hiiiiii....
Untuk mempersingkat saya akan langsung ke poin ini, karena ini adalah momen paling berkesan setelah bertemu dengan bapak somay, dan banyak momen perenungan atas kondisi dunia saat ini, kotor, penuh ketidakadilan, bahkan langit seolah dan memang tak sebiru dulu..


Poin ini juga untuk menghilangkan ingatan betapa penatnya berjalan dalam gelap dan dingin yang menusuk..... Nah 'kejadian' ini terjadi ketika perjalanan mendekati 1/8 sisa perjalanan secara keseluruhan (Psr. Rebo -Rempoa) kira-kira di daerah Pondok Pinang, klo tidak salah, antara Garda Oto dan sebuah hotel, I lupa namanya, pokoknya di daerah deket rumah Sahid (baru bertemu satu tahun setelah petualangan ini terjadi sebagai teman satu angkatan di FHUI, ganteng dan kalem manis hihihih).....

SAya memilih sisi jalan sebelah kanan dari tol ini karena I harus memilih berjalan melawan arah arus mobil, hingga bisa mengantisipasi datangnya mobil dari depan dan terhindar dari resiko tabrakan, waktu itu sudah mendekati pagi hari sekitar pukul 2 malam (eits pagi deng)...mobil pun mulai sepi, lampu jalan banyak yang mati....gelap ....menyeramkan, hanya berbekal lampu sorot mobil yang jarang lewatlah Saya mendapat cahaya yang cukup untuk sedikit merasa tenang, tiap kali mobil lewat sudah dibelakang, rasa takut kembali mencengkeram...tiba-tiba.......mendekati sebuah halte tak terawat, gelaaap, gelaap sekali dan sepenglihatan ku nga ada orang....sunyi tak bersuara, bahkan jangkrik pun tak terdengar..... tasbih, tahmid, takbir dan tahlil dipercepat mengimbangi adrenalin yang mempercepat detakan jantung....sebuah mobil melaju dari kejauhan dengan kecepatan sedang....belum cukup cahayanya menerangi halte, tapi langkah sudah tinggal satu meter lagi dari halte..

.tiba-tiba saat cahaya mulai menerangi halte....jantung seolah-olah mau meledak....ada kepala berukuran sangat besar, sinar kuning sorot lampu menunjukkan warnanya merah kekuningan seperti api yang menyalaa..Saya tak pernah bertemu kuntilanak atau genderuwo, tapi dua makhluk itu yang langsung terbetik dalam pikiran. Dalam hitungan detik jurus kaki seribu langusng beraksi, ngibriiiiit terus berlari kedepan (which ini pilihan terbaik yang berarti semakin mendekati jarak pulaaang)....

Nah lari semakin dipercepat, bahkan bisa dikatakan sebagai lari jenis tunggang langgang, ketika dari kepala itu keluar suara menakutkan......"hooooi cowok jangan lariii gueee kejar loeee...." (suara bencong)...

Mana yang lebih kau takuti?...bertemu makhluk halus jenis gandaruwo , n kuntilanak atau ketangkep bencong yang sedang bertugas? Saya lebh takut yangg keduaaaaa jadi ngbriiit sejadi-jadinya....huahahahahaha.....

Coba sedikit kita replay, jadi yang awalnya lari karena takut ketemu dedemit n keluarganya yang funky2 n sering masuk layar lebar , jadi semakin cepat ketika menyadari yang ditemui adalah makhluk yang jauh lebih berbahaya dari makhluk halusss....setan masih mudah diusir dengan doa-doa, tapi klo ketangkep bencong...wah bisa hilang keperjakaan..kikikkikiki......

Setelah lima ratus meter jauhnya dari lokasi kejadian sempat berhenti untuk mengatur nafas, untuk kemudian tertawa sejadi-jadinya mensyukuri dan menginsyafi diri ini selamat dari pengalaman yang mungkiiin jauh lebih buruuuuk, paling buruuuk, teramat sangaaat burruuuuuuuuk...hiiiiiiiiiii....mengerikan.....bahkan sampai saat menceritakan kisah ini ..bulu kuduk masih merinding, godek..gedek-gedek....


haaaa perjalanan akhirnya mendekati akhir, ketika lebak bulus sudah terlihat di depan mataa...tadinya mau ngambil jalan tembusan lewat pondok pinang ke gang sawo rempoa, tapi setalah berpikir daerah itu sarang preman akhirnya memilih jalur ciputat Raya ke arah Universitas Muhammadiyah hingga Gintung....Sebenarnya rumah saudara ada dekat Gintung di rempoa sana...tapi karena besok atau pagi itu hari sekolah I harus pulang...akhirnya ketika masih di jalan Rempoa depan gang rumah saudara, I memutuskan untuk teruss berjalan...tapi sudah tidak kuat, apalagi hawa subuh yang jauh lebih dingin sudah turun, kening sduah sampai berembun....kaki sudah bergetar hebat.....apalagi kalau menekukkan lutut sedikit saja.....

Terlintas untuk mencari tumpangan jadi menepi ke pinggir jalan untuk mencari tumpangan, Alhamdulillah tak sampai 10 menit menunggu ada mobil pick up terbuka yang lewat dan sudi untuk ditumpangi....ini juga teramat berkesan bayangkan setelah berjalan sedikit jaaauuh (bodoh jaaauuuuuh banget norak jangan sok deh loe) pertolongan Allah datang, karena ketika sang supir bertanya (dia bersama seorang rekannya duduk di depan) ke mana tujuan sya, SAya jawab Bintaro...kebetulan, mereka pun ingin ke Bintaro tepatnya lewat setelah untuk kedua kalinya kebetulan mereka memiliki tujuan ke arah jurang mangu...yang berart lewat Ramayana dan pintu depan komplek Deplu 76....huaaa tak terkira betapa senangnyaaa....begitu melompat turuuun.....rasa senang tak terkira menjadi gelora semangat yang menghilangkan segala kepenatan....dengan kecepatan lari yang m\hampir melebih ketika ngibriiiit I berlari dari depan ke rumah jaraknya kira2 200 meter laah dari atas ke bawah belok ke jalan melati ke rumah no 10 di blok b tersebut (gmana sekarang yaaah rumah itu, sudah hampir satu tahun tak berkunjung ke rumah yang dua tahun lalu sudah dijual)....

sampai lah di rumah, tiga puluh menit dari azan subuh yang kelak berkumandang, saat belum lengkap rakaat kedua dari Isyaaku yang 'kepagian', penghuni rumah sedang terjaga ketika I mengetuk pintu, bundaa yang membuka pintuuuu....langsung ku sambarr dan kucium pipi bundaaa...kemudian sambil bersemangat bercerita riang tentang pengalaman semalam...eh sepagian tadi, Abi , kakakku Yusuf dan Adikku Isna datang mendengarkan...

Diakhir cerita mama bilang dengan nada heraaannn campur geli "yaa ammpunnn kenapa nga naek taksi trus bayar di sini?" gonjreng----gonjrengggg huaaaaaaaa........opsi ini tak terlintas sedikit pun dalam bayangan.......kan jadi nga perlu jalan 'segitu' capeknya.....pertanyaan itu justru mengundang reaksi tertawa sekeras-kerasnya menertawai 'kebodohan' untuk memilih berpetualang, tapi setelah berpikir sejenak, keseluruhan petualangan tadi sangaat menyenangkan, lagi pula tak terbayang berapa harga yang harus dibayar oleh Abi untuk ongkos taksi dari lewiluyang ke rumahhh...tak....tak ....sejak dulu hati ini tak pernaaah merasa tenang kalau harus bahkan sedikit membebani keluarga...bahkan dulu waktu di Mesir sekalipun I lebih memilih untuk memakai sepatu sampai butut ketimbang merengek minta beli sepatu baru...tidak! beban orang tua terlalu besar dengan banyak anak...biarlah ini menjadi amalan untuk alokasi lainnnya...


Untuk Abi dan Ummi...anak kesayanganmu ini (setelah Isna) tak pernah tega melihat kegetiran hidup yang harus dialami!

NExt on Pejalan Tangguh II: PErjalanan Terburam dalam Hidup!




Monday, 30 June 2008

Generasi Juara

Sontekan kecil dari Torres yang unggul dalam perebutan bola atas Philip Lahm, mampu mengecoh Jens Lehman yang datang menghadang, bola pun bergulir masuk ke sudut kanan gawang Jerman. Gol tersebut merupakan satu-satunya gol yang tercipta dalam pertandingan puncak final EURO 2008. Gol itu berarti gol kemenangan bagi Spanyol yang untuk kedua kalinya sejak 44 tahun silam merengkuh Piala Henry Delauney. 

Sebelum final dilaksanakan banyak pengamat menilai Jerman memiliki peluang lebih besar untuk merengkuh juara. Ini didasarkan pada catatan sejarah negeri itu yang telah tiga kali keluar sebagai juara EURO, sebaliknya Spanyol punya predikat sebagai langganan calon juara, atau tim yang selalu digadang-gadang untuk menjadi juara karena banyaknya talenta yang dimiliki dan mutu permainan yang disuguhkan. Namun talenta yang berlimpah dan tehnik permainan yang tinggi sebelum kemarin tidak pernah mendapatkan hasil baik di tingkatan Eropa apalagi dunia.

Jika sejarah Tim nasional senior yang menjadi acuan maka memang itu faktanya. Perlu 44 tahun bagi tim nasional senior untuk dapat merasakan juara kembali. Sejarah yang berbeda akan kita lihat jika kita menilik prestasi tim nasional Spanyol di level junior, baik U-20, U-19, U-17, maupun U-16, para Spaniards muda dikenal sebagai para juara. Pada kejuaraan dunia U-20 Spanyol 3 kali masuk final dan sekali juara di tahun 1999 di Nigeria. Pada kejuaraan dunia U-17 Spanyol hanya tiga kali menjadi finalis tanpa sekalipun juara. Di level Eropa mereka adalah Raja. EUFA European U-21 Football Championship Spanyol empat kali masuk final dengan dua kali menjadi juara. Untuk kejuaraan U-19 mereka 7 kali menjadi juara hanya terpaut dua kali di bawah Inggris yang menjadi tim nasional yang paling banyak merebut juara pada kejuaraan tingkat Eropa tersebut. Pada kejuaraan UEFA U-17 yang selalu diadakan setahun sebelum kejuaraan dunia pada umur yang sama mereka 12 kali masuk final dan 8 kali keluar sebagai juara.

Darah-darah juara

Kecuali Marcos Senna yang merupakan pemain naturalisasi asal Brazil, Dani Guiza dan Kiper ketiga Andreas Palop maka para pemain Spanyol yang kini menjadi kampiun EURO 2008 adalah para juara di kejuaraan umur usia yang masing-masing mereka ikuti. Sebelum merasakan gelar juara di level senior mereka telah ‘terbiasa’ mencicipi gelar juara.

Sebut saja Fernando Torres dan Andres Iniesta yang keduanya bersama-sama memenangkan kejuaraan U-16(2001) dan U-19(2002)  Eropa. Di tahun 2004 David Silva, Sergio Ramos, Raul Albiol dan Ruben De La Red adalah para punggawa yang berhasil meraik juara U-19 Euro Champion. Pepe Reina menikmati status juara U-16 di tahun 2001 bersama Torres dan Iniesta. Daftar ini masih panjang dengan keberhasilan Cesc Fabregas menjadi juara Euro U-17 dan setahun setelahnya bersama David Silva hanya kalah dari Brazil di Final, Fabregas mencatatkan prestasi pribadi dengan menjadi pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Para darah juara ini dipimpin oleh juara dunia U-20 tahun 1999 di Nigeria, Saint Cassilas. Bersama Marchena dan Xavi, Spanyol sebagaimana dalam kejuaraan Euro 2008 menjadi tim tak terkalahkan hingga merebut juara. Xavi dan Marchena punya catatan lain dengan meraih perak di olimpiade 2000 bersama Puyol dan Capdevilla. Adapun Cassilas selain merasakan dua kali trofi liga Champion Eropa bersama Real Madrid, juga merupakan juara Eropa U-16.

 

Mitos, dan tangan dingin Aragones

Para darah juara ini diramu dan diracik oleh tangan dingin kakek-kakek bernama Luis Aragones. Mantan bomber Atletico Madrid yang kini berusia 70 tahun itu berupaya memanfaatkan mental juara para Spaniard muda yang sebagian besar dari mereka telah lama saling mengenal dan bekerja sama untuk menjajal peruntungan di tengah kesialan dan kutukan yang melanda timnas Spanyol di level senior.

Bisa jadi keputusan untuk tidak memanggil dua punggawa Real Madrid Raul Gonzales dan Guti Hernandez didasarkan alasan untuk memutus mata rantai kesialan yang menimpa tim Spanyol. Meski keduanya juga memiliki sejarah mengesankan di level junior tapi kegagalan yang panjang di level senior membuktikan keduanya tak mampu mendobrak jeratan kutukan seputar El Matador. Raul dan Guti adalah ikon era di mana perselisihan internal antara Castillas, Catalan dan pemain-pemain Basque masih tinggi. Aragones berkepentingan untuk memutus rantai itu. Berbekal para pemain yang telah lama saling mengenal, ia mencoba membuka babak baru.

Tidak hanya itu Aragones meletakkan beban untuk memimpin generasi baru Spanyol kepada Iker Cassilas alih-alih kepada Carles Puyol yang lebih senior dan selalu menjadi wakil kapten di masa Raul yang memimpin. Pilihan untuk menaruh beban pada Kiper terbaik Piala Dunia 1999 Nigeria sekaligus sang jawara tidaklah salah. Simak penampilan matang Cassilas pada kejuaraan ini. Ia tidak segan-segan berteriak menyemangati atau bahkan memaki rekan-rekannya yang lebih senior sekalipun. Kemampuannya yang mumpuni dengan hanya kebobolan 2 gol itupun hanya di babak penyisihan.  

Baja-baja yang terbaik tidak akan menjadi pedang yang tajam tanpa penanganan yang baik. Aragones adalah pandai besi yang mumpuni dalam meramu permainan dan memotivasi para pemainnya. Tidak hanya itu, kesiapan mental dan kemampuan para awak La Furia Roja telah lebih dulu dipersiapkannya dengan melakukan serangkaian pertandingan persahabatan melawan tim-tim juara, hasilnya Perancis dan Italia digebuk dengan skor yang sama 1-0.

Semua bahan untuk juara kini telah digenggaman. Aragones punya belati dan perisai ampuh untuk mengoyak serta menangkal kesialan dan pelbagai mitos yang menyelubungi prestasi timnas senior Spanyol. Tim jawara muda Spanyol tampil konsisten bahkan impresif sejak pertama kali menginjak rumput Euro. Russia ditaklukkan 4-1, Swedia 2-1, dan Yunani juara tahun sebelumnya dipaksa pulang tanpa hasil dengan skor 2-0.

Di perempat final Spanyol harus menghadapi mitos pertama. Tidak pernah lolos dari perempat final dalam kurun waktu 24 tahun terakhir, baik di kejuaraan Euro maupun Dunia. Tantangan yang dihadapi semakin besar tatkala lawan yang harus dihadapi adalah tak lain sang juara dunia Itali. Permainan tetap tidak berubah dengan skor 0-0 meski dua kali perpanjangan waktu telah dilakukan. Mitos selanjutnya, Penalti! Pada kejuaraan dunia 2002 di Korea Selatan mereka terhenti di perempat final melalui drama adu penalty melawan tuan rumah, padahal mereka baru saja lolos melalui drama yang sama di perdelapan final melawan Irlandia. Cassilas adalah saksi sejarah dan pelaku dalam dua drama adu penalti tersebut. Situasi ini merupakan ujian mental pertama dan bahkan mungkin yang paling menentukan dalam perjalanan tim Spanyol menjadi juara. Cassilas sukses memblok dua algojo Italia, Danielle De Rossi dan Di Natalie menjadi pecundang. Spanyol lolos setelah gerbong terakhir dan termuda dari La Furia Roja, Cesc Fabregas sukses menyarangkan gol, skor 4-2 untuk Spanyol.

Di Semifinal mereka telah lebih dulu ditunggu oleh Rusia yang telah mengalahkan Belanda yang tampil impresif di penyisihan grup. Rusia yang akan mereka hadapi adalah tim yang berbeda. Kali ini yang akan dihadapi bukan beruang tidur, tapi beruang yang telah menunjukkan taring dan cakarnya yang salah satunya mencuat pada diri Andre Arshavin. Tidak hanya itu, para banteng merah dihadapi dengan persoalan lain: mitos warna kuning!

Pada beberapa kesempatan melaju ke perempat final Spanyol gagal melangkah ke fase berikutnya, dan itu terjadi ketika mereka mengenakan kostum away berwarna kuning. Kekhawatiran untuk ditaklukkan pun semakin nyata saat 45 menit pertandingan berjalan tidak sesuai harapan, dan skor masih kacamata. Di sini peran Aragones dalam memainkan bidak caturnya sedemikian penting. Dua pergantian untuk dua gol pelengkap kemenangan. Setelah Xavi berhasil memasukkan gol pertama bagi Spanyol, Aragones memasukkan Fabregas. Pemain Arsenal ini kemudian memberikan dua assist kepada rekannya David Silva dan pemain pengganti Dani Guiza, skor 3-0 dan untuk kedua kalinya dalam 24 tahun setelah kalah di final oleh Perancisnya Michel Platini, Spanyol masuk final.

Tantangan di final tidak sembarangan, lawan yang mereka hadapi adalah tim yang paling banyak memenangi kejuaraan Euro (3 kali), Jerman! Tidak hanya itu , Jerman dikenal sebagai tim spesialis turnamen dan bermental juara.Statistik pertandingan juga menunjukkan grafik produktivitas Jerman sebelum masuk ke final meningkat, 2 kali lipat dari Spanyol yang hanya mencetak 3 gol pasca babak penyisihan, selain itu Jerman bermain dengan sangat efisien. Meski menjalani pertandingan semifinal tidak dengan baik, para pengamat dan dunia masih yakin Jerman lebih berpeluang untuk merebut juara. Masalah sejarah mental juara ini menjadi tantangan psikologis yang harus di hadapi oleh para matador muda.

Peluit kick off telah dibunyikan, Jerman mengambil inisiatif penyerangan, dan beberapa kali tusukan Jerman dari sisi kanan pertahanan Spanyol melalui Philip Lahm, Podolski dan Schweinsteger membahayakan Spanyol. Namun secara perlahan tapi pasti Spanyol memainkan umpan-umpan pendek cepat dan kreatif untuk mengambil alih permainan. Setelah dua kali mengancam gawang Jens Lehman, sebuah umpan terobosan Xavi mengundang adu lari dan duel fisik Fernando Torres dan Philip Lahm, keputusan Jens Lehman untuk maju menghadang menjadi keputusan pahit yang akan menandai akhir karirnya di timnas Jerman karena sontekan pelan Fernando Torres yang unggul dalam kecepatan dan tenaga menjadikan skor 1-0 bagi Spanyol, skor yang tidak berubah hingga peluit akhir pertandingan dibunyikan. Spanyol akhirnya juara!

Keberhasilan Spanyol mengoyak seluruh mitos dan kesialan yang menimpa selama 44 tahun akan menjadi modal besar mereka ke depan. Kini para jawara muda telah merasakan rasanya menjadi juara sesungguhnya, sekaligus menandai era generasi juara, gerbong yang dipimpin lokomotif Saint Cassilas dan dikawal oleh Cesc Fabregas, daftar gerbong ini masih panjang, setelah mereka masih ada Raul Garcia, Nunez, Diego Capel, Antonio Baragan, Fran Merida dan Bojan Krkic kita tunggu saja. Bravo La Furia Roja!!!

 

*Penulis adalah pencinta sepak bola dan pengamat timnas Senior dan Junior Spanyol sejak 1996

Wednesday, 21 May 2008

Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan

Salus Publica Suprema Lex Esto

-Cicero

 

Mobil mikrolet nomor 17 jurusan Garut Kota – Wanaraja itu melaju menembus hujan lebat yang turun di Garut. Meski hujan deras tetapi suara lantang penceramah dari Toa sebuah masjid kampung yang dilalui terdengar oleh sang supir, kernet yang duduk di samping sang supir, seorang teman, penulis dan dua orang penumpang lainnya.“ahhh, masing keneh ajengan ge amun tos jadi pejabat mah ngabangsat (biarpun kiyai kalau sudah jadi pejabat pasti jadi bangsat),”ujar sang supir setengah berteriak. “ lain pajabat, penjahat I(bukan pejabat, penjahat),”timpal sang kernet. Penulis hanya bisa tersenyum, dalam tatapan heran teman yang kebetulan beretnis Jawa dan sama sekali tidak mengerti bahasa Sunda.

Apa yang diungkapkan oleh sang supir dan kernet itu pada dasarnya menunjukkan satu hal. Kepercayaan publik pada pejabat daerah dan sangat mungkin Pemerintah Daerah bahkan mungkin Pemerintah Pusat, apa pun latar belakang pejabat sebelumnya, teramat rendah. Mereka lelah dengan proses demokrasi politik bernama Pemilu atau dalam hal ini Pilkada yang selama ini tidak membawa dampak langsung bagi kehidupan ekonomi mereka, atau tepatnya kesejahteraan mereka.

Sejatinya keberadaan Pemilihan Umum (pemilu) termasuk di dalamnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah ciri dari suatu negara demokrasi. Pemilu menurut teori demokrasi klasik merupakan suatu “transmission belts of power”,  rakyat merupakan sumber political authority para wakil rakyat maupun kepala pemerintahan. Pemilu merupakan proses transformasi itu. Jargon negara Republik, “ pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” diwujudkan dengan pemilu.

John Locke mengungkapkan bahwa salah satu tujuan didirikannya negara adalah untuk melindungi hak-hak individu masyarakatnya, dan puncaknya berdirinya suatu negara dimaksudkan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Pengalaman pemilu di Indonesia pasca reformasi, semenjak Pemilu 1999 dan 2004. Proses transformasi kekuasaan dari rakyat kepada wakil rakyat untuk kemudian menjalankan fungsi-fungsi negara yang bertujuan pada upaya mensejahterakan warga negara tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Jika berkaca pada data kemiskinan, tidak ada peningkatan berarti sejak berakhirnya era Soeharto hingga kepemimpinan SBY saat ini. Prosentase penduduk miskin bahkan meningkat dari 14% di akhir era Soeharto hingga paruh akhir kepemimpinan SBY pada kisaran 16.8 %. \jika ukurannya harga bahan makanan pokok maka terjadi peningkatan yang signifikan. Secara perlahan tapi pasti subsidi BBM dikurangi, yang berimbas secara langsung kepada menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat. Pendidikan di era reformasi bukan merupakan hak konstitusional sebagaimana semestinya. Pendidikan merupakan beban yang mesti ditanggung dan harus memakan korban. Tidak hanya sekali kita dikejutkan dengan perilaku ibu yang membunuh anaknya dan menghabisi hidupnya sendiri akibat akumulasi tekanan ekonomi yang tinggi. Tukang gorengan yang gantung diri. Siswa SD yang gantung diri. Contoh ekstrem memang karena anak putus sekolah, gizi balita buruk, makan nasi aking adalah fenomena yang biasa di tengah kedaulatan politik yang selama ini berlangsung.

Tingkat kesejahteraan yang menurun, dan tekanan hidup yang meningkat diperparah dengan perilaku korupsi dan penegakan hukum yang menyedihkan. Pemilu di satu sisi merupakan pesta demokrasi dan sebagaimana diungkapkan di atas merupakan proses transformasi kedaulatan rakyat. Namun, di sisi lain dia merupakan hajatan yang banyak membutuhkan dana. Suara-suara kedaulatan rakyat tergadaikan dengan beras-beras berkedok baksos, upeti preman, jatah 25ribuan untuk para tukang ojek, handphone gratis, konsesi proyek, konsesi jabatan politik (jabatan lurah dan camat). Merupakan ’biaya-biaya’ di luar biaya kampanye yang rela dikeluarkan oleh para calon pejabat publik yang haus kekuasaan. Maka wajar jika baik calon incumben maupun orang baru pasca terpilih akan berupaya untuk menanggulangi kerugian yang dideritanya. Perilaku ini di tengah kebebasan informasi dan media menjadi hal yang hampir setiap hari menemani rakyat dalam pergulatan akrobatik hidup mereka.  

Agaknya demokrasi yang kita nikmati saat ini baru sekedar demokrasi prosedural. Demokrasi yang sekedar mengantarkan individu-individu yang besar kemungkinan kemudian, meminjam istilah sarkastik yang digunakan oleh sang supir bahkan Kiyai pun saat menjadi pejabat bisa menjadi bangsat!!

Sudah saatnya dan semestinya kita mengupayakan demokrasi yang sejati yaitu demokrasi yang mensejahterakan. Sebagaimana apa yang diutarakan oleh Cicero, kepentingan, kesejahteraan rakyat adalah hukum yang tertinggi.

Viva altermundialista!!

Sunday, 3 February 2008

Train and Journey of My Soul

Seorang pgnlaju baru KRL ekonomi ...

TRaiN anD JoURnEY  of My  Soul

wouaaaaaaaahhhh.....dam*#@, f@c$, brengs3%, Bdebah busuuuuuuuuuukkkkkkkkk ( I should censore
this one,sorry)................

Kenapa kita harus pindah ke tempat entah dimananya Jakarta klo dipeta....owhhh maaf , ini bukan jakarta ini BOGOR.....no offense! gue nga bermaksud menghina temen2 yang tinggal di Bogor trust me, I am now loving to live in the area, but this is for the sake of the story......lagian gue nga di Bogor Kota tapi di pinggirannya in a place named Tajurhalang, an area which previously part of Bojonggede...

u know why I am so pissed off? nga ada KEHIDUPAN  in my new place! bahkan angkot terbatas cuman sampe jam 8 malem, nga ada tempat hiburan, mall, tempat jajanan, akses internet, rental komputer, mau kemana2 susah jaaauuuuuuuuuhhhhh... bayangin untuk bisa nyampe ke rumah dari Kampus kudu naek kereta Ekonomi, bejubel-jubel, jalur alternatif angkot? ada tapi kudu naek minimal tiga kali angkot which cost a lot of money, and which berhubung ekonomi pas-pasan, is defenitely not a choice!... jangan berpikir begitu masuk stasiun bojonggede u sudah nyampe ke rumah I punya, nga! kudu naek angkot lagi...117....dan jaraknya jaaaauuuuuuuhhhh, bayangin untuk nyampe ke sana kudu ngelewatin dua setu....
belum selesai, begitu sampe di rumah, dengan segala keterbatasan yang disebutkan di atas, you won't find any choice of activities selain nonton tv, makan , tidur... tolong dipahami that our family are just moving, blom kenal tetangga-tetangga, datang dengan budaya yang sedikit berbeda, meski naturanya kami orang desa, dan terdidik dengan kesederhanaan serta kegetiran hidup, tapi tetap saja shock culture menyerang, setidaknya pada diri gue...
Imagine, kau harus meninggalkan banyak teman yang grown up together, maen basket bareng, ngaktifin masjid bareng, kadi panitia tujuhbelasan bareng, nongkrong2 bareng....dan bayangkan kau juga harus berpisah dari tempat strategis yang punya akses hampir segalanya di pinggiran Bintaro, mau mall ada bintaro plaza, mau berenang bisa pilih mau ke mana, mau ke jakarta sangat mudah, ciledug, tangerang, ada di belakang (Pondok Betung masuk wilayah Tangerang)... mau nyari rental rumah tinggal jalan ke STAN, nga literally jalan sih tapi cukup sekali naek angkot dalam waktu lima menit nyampe...mau lari pagi di hari minggu, youll find alot of people running antara Deplu 76, 74, kavling ampe Deplu Kreo, most of them are familiar faces... nah ini yang paling penting buat gue, mau maen basket tinggal jalan ke Chenshe, bareng temen2 komplek and anak2 club lain, bisa sepuas2nya maen, sparing ooowwwwwwwhhhh you know the FEEL when you're sweating on the court!
MEski suka banjir, but Komplek Deplu 76 is surely a damn nice place to stay (ditambah letak rumah dulu di jalan mawar blok b-10 agak ataasan dikit nga sama sekali kena itu banjir), letaknya strategis and whole things that you need as growing youngster as also as a college student, exist!
NOw here I am standing, and swearing for just the second train i missed, bukan karena telat, tapi karena terlalu penuh untuk dinaiki, and guest what : I am late for a class...Hukum Antar Tata Hukum, a hell one indeed, dan ini akan jadi keempat kalinya bolos, meski ini yang kedua dengan alasan KRL...
Timbul kemarahan yang teramat sangat dalam dada, begitu bergemuruh dalam pekat teriakan batin, merutuk, sumpah serapah, dan dengan tega serta nistanya bayangan seorang laki-laki dihadirkan, untuk memvisualisasikan sosok yang 'patut' dipersalahkan, sebuah viktimisasi...
Ini semua gara-gara Abi, ngapain harus ngejual rumah trus beli rumah sempit diujung antah berantah...klo alasannya untuk bayar utang, lebih ngirit, ngapain pake beli mobil segala...utang yang lebih gede jadi nga kebayar kan? I don't know how the way he thinks...meski tak diperlihatkan, semua anggota keluarga lain nga setuju, bahkan mama sempat kupergoki menangis dalam sholat malamnya (Ibuku Insya Allah calon penghuni surga, tiap malamnya dihidupkan dengan sholat malam, klo siang bunda sukanya ngemil, tidur-tiduran klo lagi nga kerja..luv you mum!)...stress... Isna harus sekolah di SMA yang nga tau gimana reputasinya, dengan semua bakat yang dia punya, akan tersia-siakan.....but we must face it, hey sedemokratisnya keluarga ku tetap saja ini keluarga patriarkal, dimana keras kepalanya seorang ayah harus diterima dengan kepatuhan oleh anggota lainnya, don't be mislead, I love my father and I almost idolize him, tapi nga menutup penilaian objektif bahwa ada kelemahan padanya...
'waduh udah jam 830 neeh, semoga kereta selanjutnya nga lama nunggunya!", tiba-tiba suara wanita paruh baya memotong lamunan penuh amarah yang nyaris berbuah teriakan. Saat tersadar, suara yang datang dari seorang ibu berpakaian dinas PNS menghadirkan realitas kehidupan yang dijalani ribuan orang sehari-hari. Saat mendongakkan kepala dan mengarahkannya ke kiri dan ke kanan stasiun bojonggede, nurani ini menegur, "hei Bung bukan kau sendiri yang sedang menunggu KRL!", ya Saya tidak sendirian, ada serombongan siswi smp yang terlihat tegang menunggu kereta, para pedagang kaki dua (asongan), para pegawai kantoran, bapak2, ibu2 , kakek2, nenek2, yang tiap hari bergantung terhadap KRL untuk menuju tempat kerja, sekolah, kampus atau tempat mengadu nasib lainnya, atau kereta itu sendiri?

Mereka pasti juga mengeluh, mengaduh, merutuk...untuk kesekian kalinya, yang bisa jadi dengan frekuensi yang lebih dari saya...ckk...ada perasaan lain yang mulai timbul di antara amarah yang mulai mereda...perasaan iba...sedemikian banyak manusia yang bergantung pada krl, dengan pelayanan yang ..... juah dari memuaskan, harus berdesak-desakkan, kalaupun mau tidak berdesak-desakan atau sekedar mendapat tempat duduk, pilihannya hanya berangkat pagi-pagi buta atau terlambat sekalian!

Ribuan orang ini, tidak merasakan kenyamanan jok mobil dengan pendingin ruangan, yang dengannya meski macet sekalipun, sengatan matahari, kepengapan dan kepenatan takkan mereka rasakan (ini tentunya tidak termasuk kemacetan yang bikin frustasi), mereka berebutan, berdesakan,merasakan jepitan, kecopetan, dilecehkan, dibuat kesal menunggu, dibuat terlambat datang ke kantor, kampus, sekolah, TIAP HARI..

Rutukan...kali ini pemerintah yang jadi sumber amarah...kapan orang-orang ini akan mendapatkan krl dengan jadwal yang rapi? armada yang mencukupi? gerbong-gerbong yang nyaman? keamanan yang terjaga?

Yaa, aku tidak sendirian, kini aku bagian dari mereka dengan kesehari-hariannya..

Ah, KRL datang! syukurnya dapat tempat duduk. Ada empat stasiun untuk sampai UI, lima kalau memilih turun di Stasiun UI, tapi tujuanku hari itu Pondok Cina setelah memutuskan untuk pergi ke Masjid Ukhuwah Islamiyah alih-alih nekad memasang muka badak dan masuk kelas HATAH yang sudah pasti resikonya: diUSIR!

KRL itu tidak terlalu penuh...tapi tidak lantas menjadikan realitas hidup yang dihidangkannya lebih indah, sebaliknya...beberapa kali pengamen bergiliran menyusur gerbong yang aku duduki, dari mulai sekelompok pemuda, tunanetra, sampai ibu yang menggendong anaknya dan menuntun putrinya meminta belaskasihan para penumpang , dan ini mengerikan seorang lelaki dengan penuh luka dan nanah pada kedua kakinya, maaf saya ralat sebelah kakinya! ....Ya Bapak PResiden, ini kenyataannya....saat pembangunan hanya diukur dari prosentasi kemajuan ekonomi, kesejahteraan rakyat tak tersentuh kue pembangunan, yang ada adalah konglomerasi...jarak antara si kaya dan si miskin melebar....saat kue pembangunan dinikmati oleh segelintir orang, jutaan lainnya bertarung dengan nasib mereka, atau bahkan berjuang mempertahankan hidupnya, seperti di sini, dalam KRL ini!

trickle down effect? Ia hanya bualan ahli ekonomi penganut liberalisme untuk memberikan pembenaran akademik atas model pembangunan konservatif yang melenggangkan kolonialisme tanpa koloni, imperialisme tanpa boundary... karena di sini, wajah kemiskinan begitu mencolok ...

samar-samar obrolan keresahan atas kenaikan BBM terdengar di sana-sini. Seorang Ibu mengungkapkan ekspresi kebingungannya saat bercerita tentang tiga anaknya yang masih sekolah,seraya mengekspresikan kekhawatirannya bahwa sangat mungkin satu diantara mereka terancam putus sekolah sebagaimana beberapa anak tetangganya...

Anak-anak pengamen ini...pembersih gerbong ini...pedagang kecil asongan ini...mereka, tidak lagi bersekolah, bahkan tak lagi berharap bisa sekolah karena untuk bisa hidup sekolah bukan pilihan, sekolah tidak mendatangkan uang sebaliknya harus keluar uang, yang mana.....tidak mereka punya....sekolah gratis, beberapa tangan yang peduli memang mendirikan sanggar dan sekolah jalanan...tapi itu bukan pilihan saat mereka dihadapkan pada pilihan waktu memanen uang yang terpotong untuk belajar........

biarlah mereka kan miskin....orang miskin dilarang sekolah di negeri ini! Kejam... miris...ini kenyataan hidup...dan apa yang kau rasakan kalau kenyataan hidup yang pahit ini diucapkan dengan ringan oleh pejabat kampus tingkat fakultas di tempatmu kuliah? KEGERAMAN, AMARAH, ingin rasanya meninju orang itu, terkutuk...untunglah ia bukan pejabat penting, meski bisa jadi ke depan dengan posisinya saat ini bisa jadi ia akan menduduki jabatan penting, tapi sakit hati ini melahirkan doa, semoga ia diberi jalan kesuksesan lain, tidak di sini, di tempat di mana akses masuk mahasiswa bisa diaturnya!

maaf paragraf tadi cuma intermezo...

Saat nuansa keprihatinan menyelimuti seluruh jiwa dan raga kecil yang terduduk pada salah satu sudut gerbong KRL ini, tanpa sadar air mata mengalir...

kuambil karcis dari saku kananku, salah satu sisinya nampak dan kubaca, bojonggede-pasarminggu, Rp 1.500,-. KELAS EKONOMI...

Entah kenapa saat membaca kalimat tersebut sosok pria Yahudi dengan mantel hitam dan kemeja lusuhnya, dengan jenggot panjang dan wajah yang sama lusuh dengan pakaiannya hadir dalam lamunan, KArl  Marx.

Perlukah  ada revolusi Karl?  Perlukah  kami merebut  secara paksa  apa  yang ada  pada saudar-saudara kami yang the have apa yang mungkin seharusnya milik kami? perlukah ada pertentangan kelas? perebutan alat produksi? pembentukan kekuasaan proletariat tunggal?

Tiba-tiba ada perasaan jijik pada diri sendiri, umpatan, dan amarah tidak lagi ditujukan pada diri orang lain, atau pihak ketiga di luar siempunya cerita... ya ada kemarahan dan kejijikan terhadap diri sendiri...pada diri yang untuk sejenak lalu merasa tidak layak untuk berada di antara orang-orang ini, pada diri yang puas pada ke-elit-an yang pernah dirasakan, pada diri yang merasa tidak pantas berada di antara realitas kemiskinan.

Kini apa artinya rumah besar dengan lima kamar, di sebuah perumahan menengah atas, dengan akses strategis, berada di tengah-tengah lingkungan elit, dengan tawaran kesenangan yang berlimpah, saat di jarak lainnya jutaan orang lain berada dalam kemiskinan, himpitan hidup, ketidaksamaan kesempatan...

Rumah kecil bersahaja dengan dua kamar dan satu kamar tambahan, udara yang segar, lingkungan yang ramah di tengah kampung tanpa akses mewah agaknya bukan pilihan buruk... it even seems better!

Kubiarkan tangisku tergugu...malu? Tidak! bisa jadi orang-orang disekitar melihatku dengan ekpresi keheranan, entah aku tidak mendongakkan kepala untuk melihatnya...tapi tangisan ini adalah tanda kerelaan, keikhlasan, untuk menjadi bagian dari mereka, untuk bergabung dalam barisan perjuangan mereka, perjuangan untuk hidup dan kehidupan!

Tangisku semakin meledak, saat, kembali... sosok Abi hadir...ada perasaan bersalah, atas rutukan dan umpatan yang baru sejam lalu terungkapkan, meski hanya dalam hati ini...apa hakku untuk berbuat demikian!...ini adalah keputusan yang harus ditanggung bersama karena penyebabnya pun atas andil bersama, atas hidup yang terlalu besar bebannya, untuk semua ongkos pendidikan, ongkos makanan, ongkos jajan, ongkos kegiatan konsumtif keluarga lainnya, ongkos operasi teh Iin, ongkos berobat mama, nikahan A Husein dan Teh Iin, ongkos kuliahku! Beban hutang luar negeri yang dibebankan pada keluarga ini melalui kenaikan pajak, kenaikan BBM, kenaikan ongkos pendidikan, kenaikan bahan pangan...yahhh, ini adalah pilihan rasional!

Terima ksih papa, Abi...seharusnya itu yang terucap bukan umpatan...terima kasih karena sudah memperkenalkan realitas ini lebih dini...terima kasih untuk secara tidak sadar membangunkan semangat perjuangan dan perlawanan dalam diri putera tercintamu ini...Abi kepal tanganku ini mengandung sumpah...bahwa puteramu akan berjuang sekuat ia bisa, untuk hidupnya, hidup kedua orang tuanya, keluarganya, umatnya...berjuang untuk keadilan...berjuang demi keridoan Rabb-nya...Abi doakan semoga Allah memberikan kekuatan pada kepalan puteramu, agar dengannya ketidakadilan hidup akan diluluhlanttakkan..Abi doakan  agar kepalan kecil ini dipertemukan dengan jutaan kepalan putera-puteri lainnya, hingga dengan tangan bergandengan, bersama-sama keadilan diwujudkan.

Abi, asykuruk...ya Rabbi irham abii wa ummi, robbigfilrlii waliwalidayaa warhamhuma kama rabbayani shagira.

Allahumma Amiin

Allahumma Amiin

SAat turun dari KRL di stasiun Pondok Cina, Umar yang baru terlahir, dengan pandangan barunya terhadap dunia.

End

Catatan tambahan: akibat belum membiasakan diri dengan jadwal KRL, ketidakdisiplinan menjaga waktu, pada semester itu penulis mendpatakan nilai D untuk HPi, dan Hapid, untuk HATAH harus sujud syukur untuk sekedar dapet nilai C.. tampaknya tekad itu harus juga disalurkan untuk maslaah akademik! heheh


Friday, 14 December 2007

DisParity of ten thOuSAND

Menurutmu apa arti uang sepuluh ribu? Bayangkan jika pertanyaan ini ditanyakan kepadamu, teman, siapapun kamu, apapun kamu, status sosialmu...kira-kira apa yang menjadi jawabanmu...dan kira-kira terbayang kah apa yang akan menjadi jawaban orang lain?

Hmmm...sepuluh ribu...dalam kamus hidup gue bisa berarti, jatah dua kali makan dengan menu telur mau di ceplok kek, di dadar kek, di balado ,atau disemur yang penting telor, nasi setengah, orek tempe, atau tahu, atau kentang balado, sama sayur kangkung, atau bayam atau sop...minumnya yaaa air putih...Sepuluh ribu rupiah juga bisa berarti modal sekotak Aldi Donut dengan sisa tiga ribu rupiah buat ongkos pulang pergi stasiun UI , Tanjung Barat, tapi rugi cuma dapet cape klo modal gue cuma sepuluh ribu, secara satu kotak isi sepuluh satunya gue jual seribu rupiah, itu belom klo ada anak-anak yang sok-sok jadi debitur, tunda bayar...sepuluh ribu juga berati paket hemat internet untuk 4 s/d 5 jam atau bahkan seperempat harian klo laig beruntung, so I can spend my time to download things...playing CM, FM, searching for players...and writing, posting blogs..ah yaa downloading naruto...

Sepuluh ribu juga berarti ongkos pulang pergi dari rumah di Tajurhalang ke Depok, dengan perincian 2 x 1500 buat tiket kereta, 2 x 3000 buat angkot ke rumah n ke stasiun pp, dan seribu rupiah buat beli koran tempo klo agak siangan.

Apa arti sepuluh ribu buatmu?
Klau kau berikan pertanyaan ini kepada ibuku...maka sepuluh ribu berarti, modal buat ngebulin dapur satu hari buat lauk pauk minus nasi, dengan 5 anggota keluarga yang masih di rumah...ya cukup sepuluh ribu...

Coba kau tanyakan ibu-ibu rumah tangga lain, dari kalangan menengah bawah, apa arti sepuluh ribu buat mereka, mungkin berarti lauk pauk, bagi 6 s/d 10 orang anggota keluarga, dengan menu dalam derajat gizi yang lebih rendah....

kalau kau tanyakan kepada pekerja bangunan, maka sepuluh ribu adalah jatah mereka makan satu kali, plus ngopi dan dua batang rokok kretek diji samsoe....
Sepuluh ribu buat kawan-kawan bikers berarti dua liter bensin premium, cukup untuk jarak pulang pergi lebak bulus-UI...

apalah artinya sepuluh ribu buat bang ical, yang dinobatin sebagai orang terkaya di Indonesia...apa ya artinya sepuluh ribu buat korban lumpur lapindo....

Ternyata sepuluh ribu punya nilai yang berbeda bagi orang lain...tapi sudahkah kita menghargai perbedaan itu?

Monday, 15 October 2007

Re-Starting : Menulis Ibarat Menempa Diri

Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya.
(TAN MALAKA)

MEncari darah kata, kata-kata ini saya dapatkan dari seorang sahabat, Subcomandante Tian Malaka, maksud Saya Yustitia Rahman, dia pun mengutipnya dari seseorang yang Saya lupa namanya.
Darah kata adalah sesuatu yang menghidupkan kata-kata, hingga mereka tidak hanya sekedar susunan huruf-huruf yang hanya sekedar memberikan informasi biasa, tanpa membrikan ruh, dorongan, berisikan hasrat, panggilan atau apapun nilai yang ditanamkan penulisnya.
Kutipan dari Bapak Republik Indonesia di atas adalah gambaran bagaimana suatu darah kata dapat terjelma dalam tulisan dalam kata-kata itu sendiri. Bahwa pemikiran yang tertuang dalam kata-kata akan lebih bermakna tatkala ia lahir dari akumulasi peristiwa yang memebidani kelahirannya. Hingga hidupnya demikian nyata, laksana seorang anak yang padanya banyak menyimpan misteri kehidupan.
Tapi tak ada yang mampu menandingi darah kata yang terkandung dalam kalam Ilahi, Al-Quran...karena jelas, Ia bukan ciptaan makhluk tapi Khalik, yang tiap katanya hidup melambangkan awal kehidupan, tengah/berlangsungnya kehidupan, dan akhir kehidupan sebagaimana alif, lam, mim. Ia tidak hanya indah tetapi juga meng-indahkan kehidupan manusia, karena ia hudan petunjuk bagi manusia.
Blog ini, sebagaimana rencana semula pada blog friendster saya, adalah upaya kembali untuk menempa diri dengan berkarya, menulis darah kata!
Namun, untuk sementara ia akan berisi postingan lama, yang saya pindahkan dari blgo di friendster

Thursday, 16 August 2007

penulis menulis...

di fakultas sy yg tercinta ini, ada mata kuliah yang bernama Bimbingan Menulis atau disingkat BiMen. Dari namanya udah ketauan lah ya,, klo dalam kelas bimen ini kita belajar tentang tulisan dan cara menulis yang baik.

nah dalam kelas tersebut, seorang dosen sy pernah berkata bahwa menulis sebenarnya adalah proses berpikir yang paling kompleks. karena dengan menulis kita jadi dipaksa untuk mensistematiskan pikiran2 kita yng abstrak. alur harus jelas, gak boleh lompat2 seenaknya.

ah masa sih? sy masih setengah percaya setengah enggak waktu itu.."tergantung mau kitanya mau nulis apa, klo mau nulis tulisan ilmiah, itu baru mikir." pikir saya waktu itu.

tapi ternyata iya lho! nulis itu susah. klo kita nulis untuk diri sendiri mah emang gampang. tapi ketika tulisan itu untuk dibaca orang, atau bahkan punya tujuan untuk mempengaruhi orang lain,,man! susah ternyata. sy makin menyadarinya ketika mulai suka baca2 dan nulis2 blog2 seperti ini.

ada beberapa blog yg suka sy kunjungi. membaca blog tsb sy menemukan perbedaan antara tulisan yg bagus dan kurang bagus (menurut sy sih..). Penulis yg menghasilkan tulisan yg bagus biasanya (skali lagi dr hasil observasi sy thdp beberapa bog) dapat mengekstrak suatu hal kecil-yg biasanya dianggap remeh-menjadi sebuah pokok bahasan yg ternyata menarik untuk diperhatikan. jadi ini mugkin masalah sudut pandang atau kreativitas seseorang. yang jelas, menurut sy seorang penulis yg baik terbiasa melihat hal2 yang tidak biasa dari sesuatu yg biasa2 saja sehingga tulisannya menjadi beda dari yg lain dan orisinal.

duh..sy ngomong apa sih...

tapi, yang jelas dosen sy di kelas bimen pun pernah bilang, bahwa setiap orang bisa kok membuat tulisan yg baik (asal gak buta huruf aja hehe...), asal mau latihan. dan di akhir kelas hari itu ia memberikan tugas untuk membuat jurnal harian berjumlah minimal 20 buah untuk dikumpulkan pada saat Ujian akhir Semester. harapannya, kami bisa latihan menulis setiap hari. "Apa aja yg kamu pikirin dan menurut kamu itu menarik, tulis aja. sebagai awalan, janga pikirin plot dulu, tulis aja dulu ide2 yg terlintas di kepala.." begitu kurang-lebih petuahnya waktu itu. but teman2 sy yg waktu itu ngikutin instruksinya dari awal dan tekun mengerjakan jurnal paling tidak satu jurnal setiap minggu,katanya merasakan manfaatnya. mereka mulai bisa menulis dengan baik.

tapi buat sy yg mengerjakan 9 jurnal terakhir di empat hari sebelum daedline terakhir, susah rasanya, dan tulisan yg dihasilkan pun jd punya atmosfer yg sama. pendek kata: jelek.

makanya itu, sekarang sy mulai belajar nulis. belajar menulis tulisan yang baik. yg mudah dimengerti. yg jelas alurnya dan gak lompat2. biar pikiran sy juga jadi g abstrak terus...

tapi sebelim itu kayaknya sy harus menghilangkan 'disleksia' sy dalam mengaetik dilu deh...

(kalimat yag dia atas ii adalah tulisan yang tidak sy edit)